Menuju Kemerdekaan Futuristik

Foto Penulis : Alamsyah Gautama Ketua Bidang Lingkungan Hidup HMI Cabang Malang (Doc. Istimewa)


Lenteramalang.com | 
Sesekali kita perlu melihat politik beserta dinamikanya. Semakin hari, sikap apolitis tidak lagi sekadar menjadi sebuah tren, namun telah berkembang menjadi kebiasaan yang berlangsung cukup lama. Kita perlu melihat kondisi ini sebagai sebuah persoalan. Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan demi kepentingan masa depan. Rasanya, generasi hari ini mulai lupa pada tanggung jawabnya, sementara para senior belum menaruh perhatian yang cukup serius terhadap permasalahan tersebut.

Suatu hari, saya melakukan penelitian kecil mengenai pandangan mahasiswa terhadap politik. Kenyataannya, saya menemukan beragam pendapat. Sayangnya, sebagian besar didominasi oleh ketidaksukaan dan sikap enggan terlibat. Jika kita ingin terbuka melihat kondisi mahasiswa, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas keterlibatan mereka dalam persoalan sosial-politik, rasanya kita masih jauh dari kata aman. Orientasi pembelajaran masih cenderung monoton, gaya penyampaian sebagian masih konservatif, sementara tidak sedikit siswa yang mulai kehilangan rasa memiliki terhadap lingkungan akademik maupun permasalahan sosial di sekitarnya.

Pada akhirnya, jika cita-cita siswa menjadi agen perubahan, perubahan seperti apa yang sebenarnya kita dambakan? Bertanya dengan nada pesimis tentu tidak enak didengar. Namun, kita perlu membuka tabir persoalan ini demi kepentingan yang lebih besar.

Bayangkan jika sikap apolitis semakin merajalela dan semakin sedikit orang yang mau menaruh perhatian terhadap persoalan politik. Padahal, politik merupakan salah satu nadi penting dalam perubahan dan kehidupan bernegara. Politik, idealnya, mendorong terciptanya kehidupan sosial yang lebih sejahtera dan sejahtera.

Politik bukan hanya tentang pemilihan pemimpin. Jauh lebih luas dari itu, politik juga menentukan banyak hal yang mempengaruhi langsung dengan kehidupan kita, harga pakaian dan bahan pangan, akses terhadap rumah yang layak, kesehatan, pendidikan, hingga arah pembangunan bangsa.

Dengan demikian, apakah kita masih memilih diam? Atau justru mencela orang-orang yang turun ke jalan, berpanas-panasan, menghabiskan waktu, dan bekerja secara sukarela tanpa mengharapkan ketidakseimbangan?

Inilah salah satu paradoks dalam kehidupan bernegara di Indonesia. Kita memang tahu bahwa sebagian gerakan sosial dapat dikompromikan atau bahkan dikendalikan oleh kepentingan kapital. Namun, itu adalah persoalan lain. Kita juga harus percaya bahwa masih banyak gerakan yang lahir dari hati nurani, dari kecintaan terhadap negara, dan dari kegelisahan melihat kondisi masyarakat kecil di pinggiran, di desa-desa, serta di berbagai wilayah yang masih tertinggal.

Jika tulisan ini terkesan menghakimi, bukan berarti saya sedang menyalahkan siapa pun. Saya hanya ingin berpikir yang tumbuh dalam diri setiap orang; sebuah kesadaran untuk memegang keyakinan teguh bahwa setiap elemen masyarakat memiliki tanggung jawab, bekerja sesuai kebiasaan, dan saling mengingatkan tanpa adanya peluang.

Jangan sampai kita membayangkan seolah-olah hidup sendirian di negeri ini. Jangan pula merasa bahwa setiap gerakan orang lain selalu merugikan atau mengganggu kepentingan pribadi. Sikap semacam itu sangat ditolak dan, dalam banyak keadaan, menyayat emosi mereka yang masih memiliki kepedulian.

Beberapa kali kita bertemu dengan orang-orang seperti itu di jalan ketika melakukan aksi. Ada yang merasa terganggu, ada yang mencela, bahkan ada yang menganggap mereka yang turun ke jalan tidak memiliki pekerjaan lain. Namun, sebagai orang yang seharusnya mampu memahami kehidupan sosial, kita perlu belajar melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas, betapapun rumitnya perbedaan tersebut.

Kita tidak boleh hidup seolah-olah kepentingan kita lebih penting daripada kepentingan orang lain. Tidak sedikit pula teman-teman kita yang berkesimpulan bahwa keadaan ini tidak dapat diubah. Sungguh mencengangkan ketika seseorang menyimpulkan bahwa sesuatu tidak dapat berubah tanpa pernah berusaha melakukan apa pun untuk mengubahnya. Kehidupan sosial mengajarkan kita bahwa perubahan tidak datang begitu saja ia membutuhkan keberanian, keterlibatan, dan kemauan untuk terus belajar dari kenyataan.

Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan untuk membaca dan memahami dinamika politik kita, mulai dari gerakan sosial, ekonomi, hingga isu lingkungan. Semuanya dapat persepsi menjadi kesadaran yang lebih utuh tentang kehidupan bersama.

Semoga dari sana kita dapat membangun kembali kesadaran politik. Jangan menjadi apolitis. Politik terlalu penting untuk diserahkan hanya kepada mereka yang memiliki kepentingan dan kekuasaan. Demi masa depan yang kelak akan kita jalani, jadilah salah satu dari mereka yang berkontribusisetidaknya melalui pikiran, keberanian untuk bersuara, dan kepedulian terhadap kehidupan bersama.


(*/red)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama