![]() |
| Doc. Ilustrasi AI |
Lenteramalang.com | OPINI - Internet telah membuat informasi menjadi murah, cepat, dan nyaris tidak terbatas. Dalam hitungan detik, manusia dapat mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain, membaca ribuan pendapat, mengakses buku, arsip, penelitian, dan menyaksikan berbagai peristiwa yang terlebih dahulu membutuhkan perjalanan panjang untuk mengetahuinya. Namun, menyebarkan informasi tidak secara otomatis melahirkan manusia yang lebih berpikir.
Sebab informasi bukanlah gagasan, informasi dapat dikumpulkan, disimpan, dibagikan, bahkan dikonsumsi tanpa pernah benar-benar dipahami. Gagasan membutuhkan sesuatu yang lebih sulit. pengalaman, kegelisahan, refleksi, konflik pemikiran, dialog, dan keberanian untuk mempertemukan apa yang kita ketahui dengan sesuatu yang mungkin bertentangan dengan keyakinan kita.
Disinilah persoalan di zaman kita. Kita hidup dalam masyarakat yang memiliki akses informasi begitu terbuka dan bias, namun perlahan kehilangan ruang untuk mengolahnya menjadi kebijaksanaan. Kita mengetahui semakin banyak hal, namun belum tentu memahami semakin banyak persoalan. Kita dapat mengikuti apa pun tetapi sering kali hanya melalui potongan pendek yang telah dipilih oleh sistem.
Algoritma tidak selalu memberi kita apa yang benar. terutama memberi kita apa yang membuat kita bertahan lebih lama di dalamnya. Apa yang kita sukai akan dikembalikan kepada kita dan Apa yang membuat kita marah akan terus dipertontonkan. Apa yang memperkuat keyakinan kita akan mendapatkan ruang lebih besar dan Perlahan kita tidak lagi hanya memilih informasi melainkan informasi pun mulai memilihkan dunianya untuk kita lihat.
Yang lebih berbahaya bukan ketika manusia tidak memiliki informasi, melainkan ketika memiliki terlalu banyak informasi tetapi hanya dari dunia yang mengafirmasi dirinya sendiri.
Kemudian, kita hidup dalam ruang gema. Orang yang berbeda pandangan tidak lagi hadir sebagai manusia yang harus dipahami tetapi sebagai ancaman terhadap identitas. Perbedaan gagasan berubah menjadi permusuhan, Kritik dianggap serangan. Dialog berubah menjadi pertarungan untuk memenangkan kelompok sendiri. Ruang publik yang seharusnya menjadi tempat bertemunya berbagai pengalaman akhirnya berubah menjadi pasar identitas. siapa kita, kelompok mana kita, siapa yang harus kita benci, dan siapa yang harus kita bela.
Dalam keadaan seperti itu, demokrasi kehilangan salah satu fondasinya yang paling penting, yaitu kemampuan untuk hidup bersama dengan perbedaan. Masalah lain yang tidak kalah seriusnya adalah amnesia historis. Ketika generasi hanya menerima dunia melalui potongan informasi, banyak persoalan terlihat seolah baru lahir hari ini. Konflik sosial dianggap muncul karena satu unggahan, Krisis ekonomi dianggap disebabkan oleh satu kebijakan, Pertentangan politik dianggap dimulai oleh satu tokoh serta perselisihan kebudayaan dianggap sebagai masalah generasi sekarang, padahal masyarakat tidak lahir kemarin sakit.
Setiap konflik membawa sejarah, Setiap ketimpangan mempunyai akar dan Setiap kebiasaan memiliki proses pembentukannya. Bahkan cara kita memahami agama, negara, pendidikan, pekerjaan, keluarga, dan kebudayaan merupakan hasil dari pertarungan gagasan yang berlangsung jauh sebelum kita dilahirkan.
Tanpa sejarah, manusia mudah dimanipulasi oleh kesan bahwa apa yang sedang terjadi adalah satu-satunya kemungkinan yang pernah ada. Oleh karena itu, melawan penjajahan algoritma tidak cukup hanya dengan mengurangi waktu scrolling. Karena masalahnya bukan hanya berapa lama kita berada di depan layar tetapi siapa yang menentukan apa yang kita pikirkan selama berada di sana.
Kita membutuhkan kembali ruang atau tempat informasi diperbincangkan. Meja makan, Tongkrongan, Organisasi, Pesantren, Kampus, Warung kopi, Rumah, Perpustakaan, Komunitas, Ruang ruang kecil tempat manusia masih dapat bertatap muka, berbicara panjang, saling menyanggah, salah memahami, menjelaskan kembali, lalu pulang membawa pertanyaan yang belum selesai.
Gagasan tidak selalu lahir dari orang yang paling banyak dibaca tetapi Kadang lahir dari pertemuan antara buku dengan pengalaman hidup, Antara teori dengan luka, sejarah dengan kenyataan, seorang guru dengan muridnya, orang tua dengan anak dan Antara seseorang yang yakin dengan seseorang yang mengambil keyakinannya, maka dari itu kita perlu mengembalikan dialog.
Bukan sekadar perdebatan untuk menentukan siapa yang menang, tetapi percakapan untuk menemukan apa yang selama ini belum kita lihat.
Kita perlu belajar mendengar pendapat yang tidak kita sukai tanpa merasa kehilangan diri sendiri. Kita perlu membaca sejarah bukan untuk mencari pemahaman atas kelompok kita tetapi untuk memahami mengapa manusia sampai berada di tempat ini. Kita perlu membaca buku secara utuh bukan hanya mengutipnya. Kita perlu mengalami kehidupan secara langsung bukan hanya menyaksikannya melalui layar.
Sebab manusia yang seluruh pengalamannya diperantarai algoritma perlahan-lahan dapat kehilangan kemampuan membedakan antara dunia dan representasi tentang dunia.
Ia merasa telah melihat banyak hal, padahal hanya melihat apa yang dipilihkan nya.
Maka perlawanan yang paling penting terhadap penjajahan algoritma bukanlah memusuhi teknologi.
Kita harus mendapatkan kembali hak untuk menentukan apa yang kita baca, siapa yang kita dengarkan dan dengan siapa kita berbicara, pengalaman apa yang kita jalani, dan pertanyaan apa yang berani kita pelihara.
Barangkali kita perlu sesekali keluar dari feed dan kembali ke kehidupan. Bertemu manusia yang tidak bisa kita bungkam, Mendengar cerita yang tidak bisa kita skip, dan Berdebat dengan orang yang tidak bisa kita blokir. Membaca sejarah yang tidak seimbang menjadi satu menit video, dan mengalami kenyataan yang tidak memiliki tombol suka ataupun tidak suka.
Sebab kebebasan berpikir bukanlah kemampuan untuk memiliki pendapat sendiri semata. Kemerdekaan berpikir adalah kemampuan untuk melihat dari mana pendapat itu datang, siapa yang membentuknya, pengalaman apa yang membatasinya, sejarah apa yang dilupakannya, dan kemungkinan apa yang tidak pernah diperlihatkan kepada kita. Algoritma dapat membantu kita menemukan informasi tetapi jangan biarkan menjadi guru tunggal bagi kesadaran kita.
Karena ketika manusia kehilangan kemampuan untuk berdialog, sejarah, pengalaman, dan perbedaan yang tersisa hanyalah manusia yang saling berteriak dari ruang gema masing-masing. Dan mungkin bentuk penjajahan paling sempurna bukan ketika seseorang dipaksa berpikir seperti penguasa Melainkan ketika ia dibuat merasa bahwa seluruh pikiran adalah miliknya sendiri, padahal perlahan telah dipilihkan untuknya.
Editor : Amrozi
