![]() |
| Foto Bersama Himpunan Mahasiswa Bima (HMB) usai kegia |
Seminar ini menjadi ruang bagi mahasiswa asal Bima dan generasi muda Mbojo untuk kembali merefleksikan identitas kedaerahan di tengah perkembangan media sosial dan arus digitalisasi yang semakin kuat. Tidak hanya membahas persoalan budaya dan identitas, kegiatan tersebut juga mendorong generasi muda agar mampu menjadikan media digital sebagai ruang untuk menyampaikan gagasan, pengetahuan, keresahan, hingga kritik yang konstruktif terhadap berbagai persoalan daerah.
Kegiatan menghadirkan Lalas Kurniawan, Pimpinan Redaksi Ompunet Media Indo, serta La_Yadi, konten kreator, dengan Imam Sufyan sebagai moderator. Kehadiran kedua pemateri memberikan perspektif yang beragam mengenai bagaimana generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga identitas kultural sekaligus beradaptasi dengan perkembangan dunia digital.
Dalam pemaparannya, salah satu pemateri menyoroti kondisi konten di media sosial saat ini yang dinilai masih banyak didominasi oleh konten-konten yang bersifat hiburan semata. Di tengah derasnya arus informasi, generasi muda justru memiliki peluang besar untuk menghadirkan konten yang lebih bermanfaat, edukatif, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak takut memulai dan mempublikasikan karya yang mereka miliki. Menurutnya, media sosial seharusnya tidak hanya digunakan untuk mengikuti tren, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki.
Generasi muda dapat memulai dari bidang yang paling mereka kuasai. Misalnya, mahasiswa yang memiliki kemampuan dalam bidang tertentu sesuai dengan jurusan yang dipelajarinya dapat membagikan pengetahuan tersebut melalui video, tulisan, maupun berbagai bentuk konten digital lainnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi dorongan agar mahasiswa tidak merasa malu untuk menunjukkan karya. Jika memiliki kemampuan, pengetahuan, maupun tulisan yang bermanfaat, tidak perlu takut untuk dipublikasikan. Sebab, sebuah konten yang sederhana sekalipun dapat memberikan manfaat bagi orang lain apabila berisi pengetahuan dan gagasan yang positif.
Pembahasan kemudian berkembang pada bagaimana media sosial dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk membawa isu-isu kedaerahan ke ruang publik. Tradisi, budaya, persoalan sosial, hingga berbagai isu yang berkembang di daerah dapat dikemas menjadi gagasan dan konten yang menarik sekaligus memberikan perspektif baru.
Hal tersebut kemudian memunculkan sejumlah pertanyaan kritis dari peserta seminar. Salah satunya disampaikan oleh Sri Ramadhani, yang menyoroti posisi media sosial sebagai ruang bagi generasi muda dalam menyampaikan keresahan dan mengangkat berbagai persoalan di daerah.
"Sekarang media sosial menjadi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan keresahan dan mengangkat berbagai persoalan di daerah, mulai dari tradisi, budaya, sosial, bahkan isu politik. Pertanyaannya, sebagai generasi muda yang ingin membawa perubahan di daerah, bagaimana kita meyakinkan bahwa topik atau isu yang kita angkat ialah membawa perubahan atau kritikan baru untuk ke depannya yang lebih baik untuk daerah?"
Pertanyaan tersebut menggambarkan bagaimana generasi muda tidak hanya dituntut untuk aktif membuat konten, tetapi juga perlu memiliki kesadaran terhadap substansi dan dampak dari isu yang mereka sampaikan. Konten kedaerahan diharapkan tidak berhenti pada sekadar menunjukkan identitas, tetapi mampu menghadirkan gagasan, kritik, serta solusi yang dapat mendorong perubahan.
Pertanyaan berikutnya datang dari Tri Haryati, yang mengangkat persoalan identitas masyarakat Bima yang berada di perantauan, khususnya ketika berhadapan dengan lingkungan sosial yang berbeda.
“Soal identitas perantau, sering kali anak Bima terjebak di dua kutub: kalau enggak terlalu eksklusif (cuma mau kumpul sama sesama anak Mbojo), malah ada yang sebaliknya karena takut stigma, mereka sampai enggan pakai Nggahi Mbojo atau menyembunyikan asal-usulnya. Gimana cara paling pas membangun rasa percaya diri atas identitas Bima kita tanpa harus jadi eksklusif?”
Pertanyaan tersebut menjadi bagian penting dalam diskusi karena identitas kultural tidak semestinya dimaknai sebagai alasan untuk menutup diri dari lingkungan. Sebaliknya, identitas dapat menjadi sumber kepercayaan diri untuk berinteraksi dan berkontribusi di tengah masyarakat yang lebih luas.
Sebagai mahasiswa Bima yang sedang menempuh pendidikan di Kota Malang, menjaga identitas Mbojo bukan berarti harus membatasi pergaulan hanya dengan sesama orang Bima. Identitas justru dapat menjadi kekuatan untuk memperkenalkan budaya, bahasa, nilai, dan karakter daerah kepada masyarakat luas dengan tetap terbuka terhadap keberagaman.
Sementara itu, Ferdianto mengajukan pertanyaan mengenai strategi yang dapat dilakukan untuk mempertahankan nilai-nilai kedaerahan melalui pendidikan dan kehidupan generasi muda.
“Apa cara yang paling efektif yang bisa diterapkan untuk menanamkan nilai-nilai Bima (muatan lokal)?”
Pertanyaan tersebut memperluas pembahasan mengenai pentingnya muatan lokal sebagai salah satu sarana dalam mempertahankan identitas budaya. Penanaman nilai-nilai Bima tidak hanya dapat dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui keluarga, komunitas, organisasi mahasiswa, kegiatan kebudayaan, serta pemanfaatan media digital.
Di era digital, media sosial bahkan dapat menjadi salah satu sarana paling strategis untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai Mbojo kepada generasi muda. Bahasa, tradisi, sejarah, kesenian, filosofi, maupun cerita-cerita lokal dapat dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan karakter generasi saat ini.
Seminar Kedaerahan HMB UIN Malang pada akhirnya tidak sekadar menjadi forum diskusi mengenai budaya Bima. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana generasi muda Mbojo dapat tetap memiliki akar identitas yang kuat sembari beradaptasi dengan lingkungan baru dan perkembangan zaman.
Identitas kultural dan perkembangan digital bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Justru, keduanya dapat berjalan beriringan ketika generasi muda mampu menjadikan teknologi sebagai sarana untuk merawat, mengenalkan, dan mengembangkan nilai-nilai kedaerahan.
Melalui kegiatan tersebut, HMB UIN Malang mendorong mahasiswa Bima untuk tidak hanya menjadi konsumen konten, tetapi juga menjadi produsen gagasan. Pengetahuan yang dimiliki, kemampuan yang dikuasai, keresahan terhadap daerah, hingga tulisan dan pemikiran yang selama ini tersimpan dapat mulai dibagikan kepada publik melalui berbagai platform digital.
Sebab, merawat identitas di era digital bukan berarti menolak perubahan. Merawat identitas berarti membawa nilai-nilai yang kita miliki untuk tetap hidup, dikenal, dan berkembang di tengah perubahan zaman.
Pada akhirnya, generasi muda Mbojo di perantauan memiliki peran penting dalam menentukan bagaimana wajah Bima akan dikenal di masa depan. Bukan hanya melalui kebanggaan terhadap asal-usul, tetapi juga melalui karya, gagasan, kritik, dan kontribusi nyata yang mampu membawa nama daerah ke ruang yang lebih luas.
(*/red)
