Menggugat HMI Untuk Kembali Menjadi Canderadimuka Para Intelektual Kaum Muda.

Foto Penulis : Ahmad Farouk Baidawi

Lenteramalang.com | Dalam pedoman perkaderan himpunan mahasiswa islam( HMI ) yang di terangkan di dalam konstitusi HMI sibutkan bahwa: kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. Maka, dari itu ketika kita menjadi seorang kader di dalam sebuah organisasi seperti apapun bentuk organisasinya kita mempunyai tanggung jawab terhadap organisasi tersebut, entah itu tanggung jawab secara moral, sosial, dan sebagai organisatoris. Karena disini konteksnya berbicara atau membahas tentang salah satu organisasi yang sifatnya sebagai organisasi kemahasiswaan yaitu adalah HMI. Kita sebagai kader HMI mau tidak mau harus mengikuti aturan yang sudah ada di dalam konstitusi tubuh HMI itu sendiri. Artinya adalah kita sebagai kader HMI. kita harus melanjutkan tongkat ekstafet perjuangan yang sudah di jalankan oleh para fauding fathar kita, jangan sampai kita sebagai kader HMI kita memenggal sejarah yang sudah di lukiskan oleh para pendahulu kita. Paling tidak kita sebagai kader HMI harus dan wajib hukumnya mempunya tiga hal: 1.) membaca, 2.) menulis, dan 3.) memahami. 3 poin tersebut harus ada di dalam tubuh kader HMI. Tetapi belakangan ini kader-kader HMI mempunya fenomena yang penting kiranya harus kita bahas.

Yang pertama, adalah kader HMI saat ini sudah keluar dari khittah HMI sebagai organisasi kemahasiswaan dan perjuangan yang mempunyai tujuan sebagai berikut: terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi allah SWT. Hal tersebut merupakan bukti bahwa HMI adalah organisasi people-oriented, berorentasi kepada manusia. Bukan uang dan materi lainnya. Tetapi saat ini yang terjadi bukan demikian, melainkan kader HMI saat ini kalau kita lihat dari realitas yang terjadi saat kader HMI mempunyai tujuan sebagai berikut: terciptanya kader akadamis, pencinta, pengabdi setia senior yang bernafaskan materealisme dan pragmatisme untuk terwujudnya individu yang sejahtera di panggung kekuasan dalam suatu partai politik.

Yang kedua, adalah organisasi HMI yang dulunya dikenal sebagai canderadimuka dengan banyak memproduksi para kader intelektual yang sudah tidak perlu lagi diragukan kecerdasannya dan kepekaannya terhadap realitas sosial. Contohnya seperti: nurcholish madjid, dahlan ranu wiharjo, ahmad wahib dan lain sebagainya. Tetapi sekarang organisasi tersebut sudah berhenti menjadi produsen para intelektual. Melainkan saat ini organisasi tersebut menjadi organisasi krisis intelektual dan penjilat para seniornya atau bahkan bukan hanya penjilat seniornya. Tetapi yang lebih menakutakan saat ini menjadi kader medioker di atas arus globalisasi dan hedonisme yang mana hal tersebut mengantarkan kita semua kedepan pintu gerbang culture of banality. Semua itu terjadi akibat dari kurangnya para kader dan mungkin juga bukan hanya kadermya tetapi karena pengurusnya yang ada di dalam komisariat organisasi kurang militan. Kalau bung hatta mempunya tesis bahwa desa adalah tonggak masa depan di sebuah negara. Maka saya, mempunysi tesis bahwa komisariat adalah elemen yang paling penting untuk menjadikan oraganisasi HMI tetap survive di zaman post truth saat ini serta memegang nilai- nilai keislaman. jadi, masa depan organisasi di tentukan oleh komisariat. Mengapa demikian? Logikanya sangat sederhara. Karena tidak mungkin organisasi sebesar ini akan tetap survive kalau kader-kader yang ada di komisariat di anak tirikan oleh para pengurusnya yang mana mereka lebih mengutamakan praktik-praktik yang sifatnya pragmatis, materealis, dan kapitalis dari pada mengutamakan idealisme kadernya sendiri. artinya adalah HMI saat ini tidak lagi sama dengan tujuan para pendahulunya seprti yang sudah meraka inginkan terhadap eksistensi HMI dan juga HMI saat ini mengalami penyakit hipermetropi terhadap realitas sosial saat ini.

Yang ketiga, adalah HMI harus keluar dari kungkungan politik praktis. Mengapa demikian? karena politik praktis ini yang akan menjadikan organisasi menjadi penghiyanat terhadap dirinya sendiri. tetapi perlu di pahami bahwa bukan berarti kader-kader HMI tidak boleh berpolitik, justru kader HMI harus berpolitik dan melek terhadap politik. Karena sebagai mana yang dikatan salah satu fulsuf yunani yaitu Aritoteles mengatakan : manusia itu adalah antropus zoon politikon, dan juga salah satu tokoh nasional yaitu adalah moh. Natsir mengatakan seperti ini: kita hurus melek terhadap politik. Kalau kita tidak mau tau terhadap politik, maka kita yang akan di permainkan oleh politik. Bahkan salah satu alumni HMI yaitu: mahfud MD mengatakan bahwa politik itu ada dua level. Pertama, high politic. Kedua, low politic. Maka dari itu HMI harus keluar dari hal tersebut terutama buat para kader kader HMI. karena politik praktis disini yang hanya cenderung menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang di inginkan olehnya. Dan hal tersebut juga berimbas terhadap internal organisasi, merisnya hal tersebut terjadi di HMI yang mana para kader rela menghiyanati konstitusinya untuk mendapatkan sebuah kekuasaan yang dia inginkan. Contohnya: di dalam konstitusi HMI pada pasal 5 di terangkan bahwa: HMI bersifat independen. Tetapi belakagan ini kita harus merefleksikan hal tersebut. Mengapa demikian? Karena belakangan ini program-program HMI banyak di topangi oleh para seniornya yang sudah ada di delanggang kekuasaan. Maka dari itu apakah HMI masih independen? Dengan adanya fenomena tersebut. Dan juga di dalam kostitusi HMI pasal 8 yang berbunyi: HMI berperan sebagai organisasi perjuangan. Tetapi yang terjadi di lapang HMI sering di gunakan sebagai organisasi kepentingan bukan lagi sebagai organisasi perjuangan yang sesuai dengan bunyi konstitusinya. Yang lebih teragis realitas dirumah tempat saya berproses kerja-kerja yang di adakan oleh pengurus saat ini hanya ketika mereka mempunyai kepentingan terhadap kader-kadernya. Tetapi mereka tutup mata terhadap apa yang sedang di butuhkan kader-kadernya saat ini dengan keadaan a kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang hanya menjadi pemuas nafsu industri dan modernis. Hal tersebut tentunya sangat jauh dari tujuan utama pendirian HMI itu sendiri. sederhananya HMI saat ini gagal dalam menyediakan student need, student interest, student welfare dan juga lemah secara soft ware, brain ware. Maka dari itu kita sebagai kader HMI saat ini bukan lagi hanya sekeder menjaga eksistensinya, tetapi kita harus menemukan subtansi perannya dalam zaman yang terus berubah.


(*/red)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama