Menziarahi Bangkai Ideologi: Ketika Pengurus HMI Menjadi Makelar Kekuasaan dan Melacurkan "Adil Makmur"

Taufiqurrahman (Kader HMI Cabang Malang Komisariat Ki Hadjar Dewantara)

"Maka apabila cita-cita luhur telah ditukar dengan selembar rekomendasi, dan independensi digadaikan di atas meja kopi para politisi, di sanalah HMI sedang menulis surat kematiannya sendiri"

Lenteramalang.com - Sebagai seorang kader yang tumbuh dan dibesarkan oleh rahim intelektual Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), menuliskan refleksi ini bukanlah perkara mudah. Ada rasa perih yang mendalam ketika mendapati rumah yang menjadi tempat kita menempa diri kini tampak megah di luar, namun keropos dan lemah di dalam. HMI yang konon diagungkan sebagai pelopor gerakan pemuda, kini tengah mengalami dekadensi moral dan intelektual yang akut.

Kita harus jujur, tanpa pengolahan bahasa yang fiktif, HMI hari ini sedang menderita amnesia sejarah. Pengurus-pengurus kita, yang duduk manis di kursi empuk struktural, telah bertransformasi menjadi kaum borjuis kecil yang elitis. Mereka lebih sibuk mondar-mandir di ruangan ber-AC untuk transaksi politik praktis ketimbang merawat tradisi literasi sebagai pisau perjuangan kader hmi.


Gugurnya Independensi dan Syahwat Politik Praktis
Jika kita membuka kembali Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI, khususnya pada Bab I tentang Dasar-Dasar Kepercayaan, esensi utama kemanusiaan adalah ketauhidan yang membebaskan. Tauhid melahirkan kemerdekaan berpikir dan independensi etis. Namun, apa yang dipertontonkan oleh para elite pengurus hari ini?

Independensi HMI yang termaktub dalam Pasal 5 Anggaran Dasar (AD) HMI telah direduksi secara brutal. Doktrin independensi etis dan organisatoris kini hanya menjadi jualan musiman menjelang Kongres atau Pilkada. Pengurus tidak lagi berfungsi sebagai solidarity maker atau problem solver bagi umat, melainkan agen penyalur massa dan pemburu kesepakatan politik. Mereka terlena dengan panggung-panggung seremonial dan validasi para patron politik, sementara masyarakat yang tertindas ditinggalkan tanpa pembelaan.


Ironi "Masyarakat Adil Makmur" yang Diridhoi Allah SWT
Tujuan luhur HMI yang tertuang dalam Pasal 4 AD HMI begitu sakral: “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Subhanahu wa Ta'ala” Mari kita tanyakan pada hati nurani terkecil kita: di mana posisi HMI saat rakyat kecil ditindas? Di mana suara HMI saat kebijakan publik mencekik leher masyarakat bawah? Pengurus kita lumpuh. Mereka tidak mampu memberikan solusi konkret, apalagi tindakan nyata yang berdampak. Kita kehilangan daya analitis dan kepekaan sosial karena kepala kita sudah dipenuhi oleh kalkulasi untung-rugi pragmatisme politik.

Sebagaimana dikritik oleh Agussalim Sitompul dalam bukunya Citra HMI dalam Dinamika Sejarah Perjuangan Bangsa, kekuatan HMI terletak pada komitmen asasi terhadap umat dan bangsa. Ketika komitmen itu bergeser menjadi komitmen terhadap figur politik atau kepentingan faksional, HMI kehilangan legitimasi moralnya di hadapan rakyat.


Sinyal Penyadaran: Membaca Ulang Kitab Suci Perjuangan
Untuk mengetuk pintu hati para pengurus yang sedang mabuk kekuasaan, mari kita tengok kembali warisan intelektual yang menyusun pondasi bangunan HMI:

  1. NDP HMI (Nurcholis Madjid): NDP bukanlah pajangan untuk LK I (Basic Training). NDP adalah pisau analisis. Jika pengurus memahami Bab III tentang Kemerdekaan Manusia (Ikhtiar) dan Keharusan Universal (Takdir) , mereka akan sadar bahwa membiarkan diri diperalat oleh oligarki adalah bentuk syirik sosial yang merenggut kemerdekaan insani.

   2. HMI Mengayuh di Antara Dua Karang (Agussalim Sitompul): Buku ini mengingatkan kita bagaimana HMI dulu bertahan dari hantaman badai politik tanpa harus kehilangan harga diri. Menjaga jarak yang sama dengan semua kekuatan politik adalah harga mati, bukan mendekat demi mendapat remah-remah kekuasaan.

  3. Kekuasaan dan Karibnya (Sulaeman Mappiasse): Sebuah refleksi kritis bahwa ketika kader HMI hanya mengejar akses kekuasaan tanpa dibekali basis moral Islam yang kokoh, mereka hanya akan menjadi replika dari para koruptor dan penindas baru di masa depan.


Kesimpulan: Kembali ke Khitah atau Punah?
Rumah intelektual kita sedang rapuh. Dekadensi moral ini tidak boleh dibiarkan menjadi kewajaran. HMI harus diselamatkan dari tangan-tangan pengurus borjuis yang tidak bermoral, yang menjadikan organisasi ini sebatas batu loncatan karier pribadi.

Para pengurus HMI di semua tingkatan harus turun dari menara gading mereka. Gantilah kopi mahal di kafe-kafe lobi politik itu dengan segelas kopi hitam di emperan komisariat, berdiskusi lah dengan rakyat, dan kembalilah membaca buku. Jika tidak, bersiaplah melihat HMI tercatat dalam sejarah bukan sebagai pahlawan bangsa, melainkan sebagai organisasi purba yang mati mengenaskan karena keserakahan elitnya sendiri.

Penulis : Taufiqurrahman
Editor   : Fery Abdul Aziz




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama