Ketika Bencana Tak Hanya Soal Alam: Diskusi Publik di Rendezvous Kalimetro Malang Soroti Ketimpangan dan Kerentanan Lingkungan

Potret Diskusi Publik Di Rendezvous Kalimetro
 (Doc: Lapmimedia)

Lenteramalang.com - Diskusi publik bertajuk “Indonesia Darurat Bencana: Membaca Sejarah Lingkungan, dan Masa Depan Indonesia” digelar oleh Rendezvous: Ruang Baca & Toko Buku pada Jumat, 10 Juli 2026. Kegiatan yang berlangsung di Rendezvous Kalimetro, Jalan Joyosuko Metro Nomor 42, Merjosari, Kota Malang, tersebut menghadirkan penulis dan akademisi sejarah Universitas Negeri Malang, Ronal Ridhoi, S.Hum., M.A., sebagai pembicara utama, dengan Mu’izul, relawan Malang Corruption Watch (MCW), bertindak sebagai moderator. Diskusi ini menjadi ruang refleksi atas meningkatnya ancaman bencana di Indonesia dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Mengawali pemaparannya, Ronal mengajak peserta melihat bencana dari perspektif yang lebih luas. Ia menyoroti isu megathrust yang belakangan kembali menjadi perhatian publik dan menegaskan bahwa Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap berbagai ancaman kebencanaan. “Kita hidup di wilayah yang secara geologis memang aktif. Karena itu, bencana seharusnya tidak dipahami sebagai kejadian yang datang tiba-tiba, melainkan sebagai bagian dari realitas yang harus dibaca dan dipersiapkan sejak awal,” ujar Ronal.

Menurut Ronal, pembacaan terhadap sejarah lingkungan menjadi penting untuk memahami mengapa suatu wilayah terus mengalami bencana yang berulang. Ia menjelaskan bahwa banyak peristiwa kebencanaan tidak semata-mata disebabkan oleh faktor alam, tetapi juga berkaitan dengan perubahan lingkungan, tata ruang, dan kebijakan pembangunan yang berlangsung selama bertahun-tahun. “Ketika kita berbicara tentang bencana, yang harus dibaca bukan hanya peristiwa hari ini, tetapi juga sejarah panjang yang membentuk kondisi lingkungan tersebut,” katanya.

Pembahasan kemudian mengerucut pada sejumlah kasus bencana di Jawa Timur, khususnya banjir yang kerap terjadi di Desa Sitiarjo, Kabupaten Malang. Ronal menjelaskan bahwa wilayah tersebut memiliki karakter geografis berupa cekungan yang dikelilingi tebing-tebing karst sehingga rentan mengalami genangan ketika debit air meningkat. Kondisi itu diperparah oleh meluapnya Sungai Panguluran yang menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir. “Persoalan Sitiarjo tidak bisa dilepaskan dari kondisi bentang alamnya. Ketika hujan dengan intensitas tinggi datang, air akan terkumpul di wilayah cekungan dan sulit mengalir keluar,” ujarnya.

Ronal Ridhoi, S.Hum., M.A.
(Pembicara Utama Diskusi Publik)

Karena itu, menurut Ronal, penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan melalui respons darurat ketika bencana terjadi. Ia menilai mitigasi harus menjadi prioritas utama melalui pemetaan risiko, pengelolaan daerah aliran sungai, serta penataan ruang yang mempertimbangkan karakter geografis wilayah. “Mitigasi harus berbasis pada pemahaman terhadap kondisi lingkungan. Jika akar persoalannya tidak dipahami, maka bencana yang sama akan terus berulang,” katanya.

Selain kasus banjir, Ronal juga menyinggung kawasan permukiman di sekitar Gunung Semeru yang selama ini hidup berdampingan dengan ancaman erupsi. Ia menilai keberadaan masyarakat di wilayah rawan bencana sering kali dipandang secara sederhana, seolah-olah mereka sengaja memilih tinggal di kawasan berisiko. Padahal, menurutnya, faktor ekonomi menjadi alasan utama yang membuat masyarakat tetap bertahan. “Banyak masyarakat tinggal di wilayah rawan karena di situlah sumber penghidupan mereka berada. Faktor ekonomi ini sering kali luput dari perhatian ketika pemerintah berbicara tentang mitigasi dan relokasi,” ujarnya.

Lebih jauh, Ronal mengkritik kecenderungan sebagian elite politik yang hanya menjadikan bencana sebagai momentum untuk menarik simpati publik tanpa menyentuh persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat terdampak. Menurutnya, penanganan bencana harus dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi sekaligus. “Bencana bukan hanya soal alam. Ada persoalan ketimpangan, kemiskinan, dan kebijakan yang ikut membentuk kerentanan masyarakat. Jika itu tidak dibenahi, maka kita hanya akan terus mengulang cerita yang sama setiap kali bencana datang,” tutur Ronal menutup diskusi.


Pewarta : M Syauqi Mubarak
Editor     : M Ali Makki

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama