![]() |
| Nur Iskandar/Penulis |
Malang, LAPMI - Ada satu ungkapan yang sering membuat banyak orang (termasuk saya) enggan terjun ke dunia politik: “politik itu menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.” Ungkapan ini sangat populer, didukung oleh berbagai contoh buruk yang sering kita lihat di layar televisi maupun media sosial. Akibatnya, banyak anak muda memilih menjaga jarak, seolah politik adalah kubangan yang akan menenggelamkan nilai-nilai moral siapa pun yang masuk ke dalamnya.
Namun, sebagai kader HMI, saya menyadari bahwa cara pandang seperti itu tidak cukup. Dalam proses perkaderan, khususnya ketika mempelajari materi Ideopolitorstratak (ideologi, politik, organisasi, strategi, dan taktik) kita diajak untuk melihat politik dari kacamata yang lebih luas dan dewasa. Politik bukan sekadar perebutan kekuasaan; ia adalah instrumen perubahan sosial. Politik menentukan arah bangsa, nasib masyarakat, dan ruang hidup generasi mendatang.
Salah satu pelurusan penting yang saya dapatkan adalah bahwa politik itu ibarat pisau. Pisau pada dirinya tidak mempunyai moral (tidak baik, tidak buruk) semuanya bergantung pada siapa yang memegangnya. Ketika pisau digunakan oleh seorang ibu di dapur, ia menjadi alat penyambung kehidupan. Namun jika jatuh ke tangan yang salah, ia bisa berubah menjadi alat yang melukai. Analogi inilah yang membuat saya akhirnya berani meninjau ulang rasa enggan untuk terlibat dalam politik.
Justru karena politik sering disalahgunakan, ruang itu tidak boleh dibiarkan kosong ataupun dikuasai oleh mereka yang hanya mengejar kepentingannya sendiri. Jika orang baik memilih menjauh, maka yang tersisa adalah mereka yang tidak peduli pada etika. Di sinilah HMI mengambil perannya yakni, membentuk insan kamil yang mampu memadukan kecerdasan intelektual, moral, dan spiritual dalam ruang sosial termasuk politik. Ideopolitorstratak tidak lahir untuk membuat kita takut pada kekuasaan, tetapi untuk membekali kita agar siap mengelola dan mengarahkannya dengan benar.
Dalam tradisi HMI, politik dipandang sebagai bagian dari tugas keumatan dan kebangsaan. Jika umat membutuhkan keadilan, jika rakyat membutuhkan kesejahteraan, maka alat untuk memperjuangkannya salah satunya adalah politik. Dengan cara inilah kader diharapkan tidak hanya paham konsep, tetapi juga siap terlibat dalam dinamika sosial tanpa kehilangan nilai. Politik bukan tempat untuk meninggalkan prinsip, melainkan ladang untuk membuktikan bahwa prinsip itu bisa diwujudkan.
HMI menempatkan politik sebagai ruang aktualisasi, bukan ruang pembusukan moral. Karena itu, kita dituntut untuk berpikir strategis, bergerak taktis, tetapi tetap berpegang pada nilai kemanusiaan, keislaman, dan keindonesiaan. Politik yang baik bukan utopia. Ia mungkin diwujudkan jika diisi oleh orang-orang yang benar, terdidik, berintegritas, dan memiliki orientasi pelayanan.
Maka, jika politik benar adalah pisau, tugas kita sebagai kader bukan menghindar, tetapi memegangnya dengan hati-hati, bijak, dan penuh tanggung jawab. Politik harus kita rebut kembali dari stigma buruknya. Sebab, bila kita percaya bahwa perubahan sosial adalah amanah, maka hadir dalam politik adalah bagian dari ikhtiar untuk memastikan perubahan itu berjalan pada arah yang benar. Kita tidak harus menjadi pemain kotor untuk bertahan; kita justru harus menjadi bukti bahwa politik yang beretika itu masih mungkin diperjuangkan.
Editor : Amrozi

Komentar
Posting Komentar