![]() |
| Wildayanti (Mahasiswi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang) |
Malang, LAPMI - Pandemi Covid-19 tidak hanya menguji ketahanan sistem kesehatan, tetapi juga menguras kekuatan fisik dan mental para tenaga medis yang berada di garis terdepan. Di balik pintu ruang isolasi Covid-19, para perawat menjalani hari-hari penuh risiko, bekerja dengan perlindungan ketat, dan menghadapi ketidakpastian yang tinggi demi keselamatan pasien.
Kondisi inilah yang menjadi sorotan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Wildayanti, mahasiswi keperawatan dengan bimbingan Anis Ika Nurrahma, dosen spesialis keperawatan medikal bedah. Tulisan ini mengungkap gambaran nyata tingkat kecemasan perawat yang bertugas di ruang isolasi Covid-19 Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.
Ruang isolasi Covid-19 dikenal sebagai area dengan risiko penularan yang jauh lebih tinggi dibandingkan ruang perawatan biasa. Perawat harus melakukan kontak langsung dengan pasien terkonfirmasi positif, menjalani jam kerja panjang, serta mengenakan alat pelindung diri (APD) dalam waktu lama. Situasi tersebut secara tidak langsung memicu tekanan psikologis yang signifikan.
“Perawat tidak hanya memikirkan keselamatan diri sendiri, tetapi juga keluarga di rumah. Kekhawatiran menularkan virus kepada orang tua, pasangan, atau anak menjadi beban emosional yang berat,” ujar Anis Ika Nurrahma saat menjelaskan latar belakang tulisan ini dimuat.
Penelitian atau tulisan tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan perawat yang bekerja di ruang isolasi Covid-19. Metode yang digunakan adalah penelitian observasional deskriptif, yang dilaksanakan pada tanggal 25 Mei hingga 3 Juni 2021. Sebanyak 16 perawat yang bertugas di ruang isolasi Covid-19 menjadi responden dalam penelitian ini.
Untuk mengukur tingkat kecemasan, peneliti menggunakan Kuesioner Skala Penilaian Kecemasan Hamilton (Hamilton Anxiety Rating Scale), sebuah instrumen yang telah banyak digunakan dalam penelitian kesehatan mental dan memiliki tingkat validitas yang baik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat mengalami kecemasan ringan. Dari total 16 responden, 13 perawat atau 81,25 persen tercatat berada pada kategori kecemasan ringan. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun berada dalam situasi berisiko tinggi, perawat tetap mampu mengelola kecemasan mereka dengan cukup baik.
Menurut Wildayanti, hasil ini mencerminkan ketangguhan dan profesionalisme perawat dalam menghadapi tekanan selama pandemi. “Meskipun rasa cemas itu ada, para perawat tetap menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi,” ungkapnya.
Namun demikian, Anis Ika Nurrahma menegaskan bahwa kecemasan ringan bukanlah kondisi yang bisa diabaikan. Jika dibiarkan tanpa dukungan yang memadai, kecemasan dapat berkembang menjadi masalah psikologis yang lebih serius. Oleh karena itu, rumah sakit perlu memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan mental tenaga kesehatan, tidak hanya fokus pada aspek fisik semata.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pihak manajemen rumah sakit dan pembuat kebijakan untuk meningkatkan dukungan psikologis bagi perawat, seperti penyediaan layanan konseling, dukungan emosional, serta lingkungan kerja yang aman dan suportif.
Di tengah pandemi yang penuh tantangan, para perawat telah membuktikan diri sebagai pahlawan kesehatan yang sesungguhnya. Melalui tulisan, dan penelitian yang dilakukan oleh Wildayanti dan Anis Ika Nurrahma, masyarakat diajak untuk melihat sisi lain dari perjuangan perawat bahwa di balik ketegaran mereka, terdapat rasa cemas yang perlu dipahami, dihargai, dan didukung bersama.
Editor : Amrozi

Komentar
Posting Komentar