Langsung ke konten utama

Refleksi Singkat dari Kader HMI 2025 (Faradis) terhadap Kemunduran HMI

Faradis Hakim (Kader HMI Idham Chalid 25)

Malang, LAPMI - Himpunan Mahasiswa Islam adalah organisasi yang tertua dan terbesar di Indonesia bahkan masi memiliki cabang istimewa lainnya yg ada di luar negara. Organisasi ini berdiri pada tanggal 05 Februari 1947 bertepatan di jogjakarta. Lahirnya organisasi ini berangkat dari keresahan ayahanda Lafran Pane atas keadaan objektif Indonesia pada saat itu, bukan hanya itu tetapi polemik islam yang saling menyalahkan antara paham yang satu dengan yang lainnya. Semisal NU dan muhammadiyah mempermasalahkan soal qunut dan lainya yg mempunyai perbedaan pandangan di dalamnya. 

Himpunan Mahasiswa Islam atau sering disingkat HMI, hadir dengan visi dan misi yang berusaha mempertahankan negara kesatuan Republik indonesia dan menegakkan dan mengembangkan agama islam. Visi serta misi HMI terus mengalami evolusi dalam perumusan atas dasar semakin kompleks problem yang terjadi hari ini. Kemudian pada akhirnya di kongres HMI di palembang tahun 1971 tujuan HMI kembali mengalami perubahan dan hingga saat ini alhamdulillah masih menjadi tujuan yang kongkret yang berusaha memberikan tanggung jawab penuh dalam menjawab dan memberikan solusi aktif pada kader sebagai bukti bahwasanya HMI mempunyai visi yang panjang hingga akhir hayat, yakni;  "Terbinanya insan akademis pencipta, pengabdi yang bernapaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT" 

Tujuan tersebutlah menjadi visi dalam memberikan solusi dan berusaha menjawab tantangan jaman. Semua aktifitas atau pola laku kader HMI tidak lain dan tidak bukan semua hanya karena ridho Allah. Atas dasar ridho Allah inilah menjadi ke tak terhingga nya tujuan HMI atau tanpa ujung tujuan HMI berusaha merealisasikan diri. Namun, menjadi pertanyaan nya apakah per hari ini sudah terinternalisasi dlm pola laku? 


Kemunduran HMI
HMI sangat ideal dan terus berkembang serta berusaha untuk menjawab dan dan memberikan solusi kongkret untuk umat dan bangsa. HMI bernapaskan islam, islam yang rahmatan lil alamin. Kemunduran yang berusaha penulis katakan adalah HMI yang sebagai kader umat. Keadaan objektif hari kemarin yang menjadi keresahan ayahanda Lafran Pane atas pengklaiman dan menyalahkan atas pemahaman yg satu dengan yang lainnya merupakan hal yang bahkan sampe hari ini tetap terjadi.Namun, bukan itu perlu saya bahas disini. Sebab sampe perdetik ini perbedaan menjadi hal sangat unik dan terlihat indah dalam tumbuh himpunan ini. 

Organisasi yang bernapaskan islam ini, memiliki kemunduran yang sangat pesat, kemunduran dalam pola laku dan aktifitas keseharian yang tidak mencerminkan hal demikian. Namun, tidak dengan konsep mereka terhadap islam. Kader HMI mempunyai keluasan intelektual atas ilmu keislaman tetapi hanya ada dalam pikir tak sampai pada laku. Hal inilah yang menjadi kemunduran terbesar dalam umat islam Indonesia. HMI adalah organisasi terbesar bukannya tercipta Indonesia emas malah Indonesia cemas. 

Malu gasih masuk HMI, flexing sana sini ber-HMI tapi ga sholat, malu ke Allah, malu ke diri sendiri, malu ke Lafran Pane, malu ke Cak Nur dll.

Hal inilah yang menjadi refleksi singkat diri saya terhadap himpunanku, sempat pada suatu kesimpulan, aku kecewa terhadap HMI. Namun, pada suatu titik tertentu saya berusaha untuk mengembalikan rasa cinta ku pada himpunan ini, karena pada dasarnya himpunan ku ini bukan menjadi penyebab itu semua terjadi, melainkan orang-orang yang ada didalamnya. Himpunan love sampe akhir hayat. 


Penulis : Faradis Hakim
Editor   : Ai Novia H

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Demi Party di Yudisium, Kampus UIBU Malang Poroti Mahasiswa

  Kampus UIBU Malang dan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Yudisium Malang, LAPMI - Universitas Insan Budi Utomo Malang yang biasa disebut kampus UIBU akan menggelar acara yudisium dengan tarif 750.000. Sesuai informasi yang beredar yudisium tersebut akan digelar pada hari Rabu (14 Agustus 2024) dan akan dikonsep dengan acara Party/Dj. Hal tersebut membuat kontroversi di kalangan mahasiswa UIBU lantaran transparansi pendanaan yang tidak jelas dan acara yudisium yang dikonsep dengan acara party/DJ. Salah satu mahasiswa berinisial W angkatan 2020 saat diwawancarai mengatakan bahwa Yudisium yang akan digelar sangat tidak pro terhadap mahasiswa dan juga menyengsarakan mahasiswa dikarenakan kenaikan pembayaran yang tidak wajar dan hanya memprioritaskan acara Party/Dj. “Yudisium yang akan digelar ini konsepnya tidak jelas dan tidak pro mahasiswa, tahun lalu tarifnya masih 500.000 tapi sekarang naik 250.000 menjadi 750.000, teman-teman kami tentu banyak yang merasakan keresehan ini. Pihak...