Dari Kota Kata dan kita, Ke Sebuah Tutorial Bernafas Otomatis di Era Modernisasi, Menolak Cara Bernafas Manual, zaman Klasik
![]() |
| Rahmat Watimena(Penulis) |
"Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah."
"Alhamdulillah, sama kita selesaikan tiga kali istighfar, banyak-banyak istighfar."
"Tenang, baru intro belum inti."
Arus perubahan zaman seperti makanan yang kita makan. Pola konsumsi menentukan pola pikir, berefek pada tubuh kita. Pola pikir ini menentukan bagaimana budaya baru hadir: apakah saling terkontaminasi antara tradisional berbudaya dan perpaduan perkembangan budaya orang modern hari ini?
Pola konsumsi tadi bisa kita per halus seperti ini: wadah makannya adalah kota, kata selayaknya sendok makan, dan kita selayaknya sendok garpu. Sebab karena hal ini terjadi, maka ada dua unsur dalam melihat dunia. Sudahlah, ini hanya menjadi prolog abal-abal saja. Paradam-paradam, well…
“Tidak usah berpikir panjang, Ketua. Toh hidup hanya soal bagaimana kita bernapas, manual ataukah otomatis.”
Kalau lagi membaca ini coba…
“Pastikan cara bernapas mu masihkah otomatis?”
Dan sambil pikir tebak-tebakan ini:
“Bebek, bebek apa yang kakinya empat?”
Oke, kita lanjutkan.
Neran duduk kali ini menikmati kopi di tempat biasa, di Jalan Jenderal Sudirman. Berselang satu jam duduk, ada seorang pria membawa kertas. Lelaki itu menggunakan kaos pendek dan tidak menggunakan alas kaki, berlari kecil di terik matahari pukul tiga belas siang. Dengan menggunakan botol bekas dan kaleng susu kental manis di tangan kanan dan kirinya, diisi batuan koral. Di kaki sebelah kiri terdapat tiga botol dan kaki kanan terdapat tiga botol. Bunyi bising itu melewati depannya. Lelaki itu berteriak:
“Kota, kata dan kita!”
Sepanjang perjalanannya, di samping itu Neran sedang berbicara santai berkisah masa lalu tentang vespa yang jalannya macet. Motor tua mereka, Piaggio buatan Italia mesin Ducati tahun 1982, dinyalakan mengeluarkan asap putih hasil pembakaran oli; maklum saja, oli dan bahan bakar dicampur. Mereka menyebutnya vespa. Motor yang awalnya keluaran tentara untuk pasukan perang ini diberikan aku namanya Bumi, warisan dari kakak tertua.
Berjalan menyusuri jalanan kota yang macet karena ada angkatan baru tahun ini. Kurang lebih tiga puluh delapan ribu wajah baru yang memadati kota ini. Sebelum saya lanjutkan cerita yang biasa saja ini, perkenalkan, saya seorang musafir yang setiap perempatan kita bertemu jalanan macet yang tak henti. Entahlah, tak mengenal jam pulang kerja. Semua terasa sama dengan jam biasanya. Menemukan macet sedikit demi sedikit memangkas sana sini waktu kita. Demi kota yang tak kunjung menawarkan bagaimana dan seperti apa kondisi kita hari ini dan besok.
Vespa menjauh pelan-pelan. Lorong-lorong dari lorong itu dilalui dengan asap mengepul menandakan motor tua butut yang dikendarai oleh lelaki bercelana cutbray, rambut brokoli, itu meninggalkan yang dia kenal dengan teguran. Motor tua itu lebih tua dari umur si pengendara. Menjemput kekasihnya di depan kosnya dan meninggalkan kota terasa asing, hal romantis bagi sebagian orang. Tanpa pelukan dan helm Piaggio hitam, memecahkan matahari pukul dua belas siang itu.
Setelah membaca Gorki berjudul *Ibunda* yang diterjemahkan Pramoedya Ananta Toer untuk mahar nikahnya, berdiskusi di atas motor tua itu menyusuri kota dengan jalanan lambat. Dan terakhir dengan tanya jawab dan debat kecil selama perjalanan, seperti ini:
“Kota, kata dan kita,” ucap kekasihnya.
“Kekasihku, kau harus lihat bagaimana dunia bekerja, mungkin saja sebagai doa tentang kata, kota dan kita. Berkali-kali aku mempertanyakan bagaimana dunia bekerja. Ya, dunia bekerja seakan-akan kita lemah, dan hampa memeluk kita,” jawab Neran.
“Setiap detik, eksploitasi manusia muncul di media massa. Setiap detik, genosida atas nama pembangunan dilahirkan dari kebijakan pemerintah. Dunia seakan tak berpihak untuk cinta kita. Lihatlah di ujung negeri ini, pembebasan tambang sudah seperti hal biasa saja, sayang,” Neran berkata sambil menggeber motornya sebab bertemu vespa keluaran tahun 1962 merek Sprint.
“Hutan Kalimantan yang tidak pernah dijamah tangan manusia harus habis. Darah, nyawa orang Papua harus hilang atas nama investor negara. Mereka merdeka di atas tanah mereka, hak ulayat turun-temurun yang mereka taruh percaya bahwa gunung, tanah, dan laut adalah ibu bagi mereka.”
“Mereka hanya menjaga tanah, dengan hasil kebun anak-anak mereka bisa sarjana,” sambung Neran, tepat di lampu merah.
“Tanah ini milik kita. Sedang aku tuliskan bagaimana doa bekerja dan sedang aku ucapkan bagaimana kita tetap ada, di tengah-tengah zaman yang tidak pernah merestui tentang kita. Bukan tentang aku dan kamu. Di perjalanan panjang, sebab cinta… rindu lah yang menjadikan cinta benar-benar dewasa,” sambung Neran sambil aba-aba meninggalkan lampu merah sebab lampu telah menunjukkan warna hijau.
“Ya, aku sepakat denganmu kali ini. Dilema seringkali menghampiri kita. Kota seringkali dilahirkan atas nama industri, toh ada wajah yang lain dari semua ini. Seringkali kita tidak menemukan, kekasihku, bagaimana kota didesain, dari variabel apa kota dibentuk?”
“Sebab kota menentukan pola konsumsi. Pola konsumsi menentukan watak, bukan?” ucap kekasihnya.
“Kota tidak terlepas dari kota yang berbasis teknologi. Konsep kota ini sulit kita dapati di negara-negara berkembang seperti Indonesia, sayang. Karena mereka melihat masyarakat adat bukan sebagai subjek tetapi objek. Eksploitasi ini mulai hadir untuk ‘kebebasan’ mereka. Hak ulayat yang secara turun-temurun mereka jaga, hutan yang tidak pernah mereka jamah, tanah yang mereka tanami kelapa demi anak-anak dan cucu-cucu mereka bisa sekolah, hari ini dijamah oleh ekskavator.”
“Masyarakat adat tidak punya hak perlindungan oleh negara. Tidak ada pelindung atas hak mereka dan tradisi mereka jika tidak menghasilkan,” ucap kekasihnya.
“Darah, nyawa, dan suara yang mereka suarakan demi substansi hidup mereka, tak hanya soal melawan. Di lain sisi, kota didesain dengan konsep industri. Pola yang mereka hadirkan: krisis ekonomi. Jumlah konsumsi tinggi tetapi lapangan kerja tidak cukup banyak. Pola ini seringkali menghadirkan substansi yang memunculkan pertanyaan besar: akankah tanah kebun mereka harus berdiri pabrik penghasil limbah sehingga laut itu bukan berwarna biru lagi?”
“Ataukah gunung-gunung itu habis dibabat demi emas? Inilah bukti bahwa perkembangan kota di Indonesia sama sekali tidak merujuk ke pembangunan berbasis ekologis. Sebab seringkali bisa kita temukan kota yang berbasis pada penyediaan ruang terbuka hijau sebagai representasi ekologi dan berdampingan dengan kota yang berbasis teknologi. Tetapi tidak pernah ada kota yang dikonsepkan arah pembangunannya berbasis industri dan ekologi.”
---
Neran menuju bundaran Balai Kota. Orang-orang berteriak dan menyampaikan aspirasi sambil berjalan dan menyanyikan lagu "Buruh Tani". Dari mobil komando, seorang lelaki menyampaikan aspirasinya. Di depan gerbang, aparat kepolisian dengan mobil water cannon-nya siap berjaga. Lebih dari dua puluh anggota polisi berjaga dengan tameng dan pentungan di tangan. Seakan aspirasi ini milik para pendemo. Mereka menuntut agar pemerintah benar-benar adil dalam membuat kebijakan. Lelaki itu membuka orasinya dengan kata-kata Fidel Castro di Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa:
“Maju terus dan menang! Tanah air atau mati!”
“Terus, bagaimana dengan kata?” tanya kekasihnya.
“Dalam politik bahasa, kita bertemu dengan pertanyaan panjang: mengapa seorang korupsi harus dikatakan ‘korupsi’? Kenapa tidak dengan ‘pencuri’? Adakah yang salah, kekasih?” sambil memarkirkan motornya.
“Politik bahasa sering kita jumpai patriarki dan feminisme berdebat keras. Toh seorang yang feminis seharusnya tak bertuhan, bukan?” ucap Neran sembari melangkah menuju gerombolan orang di depan DPRD.
“Kenapa begitu?” tanya kekasihnya dengan dahi mengerut dan Neran merangkul tangannya untuk menyeberang.
“Coba jawab dulu. Kenapa yang paham feminisme tak harus bertuhan?” sambil melangkah di atas trotoar.
“Ya, kedua puluh lima nabi itu tidak ada yang perempuan, bukan?” sambung Neran sambil menunduk memperbaiki tali sepatunya.
“Perempuan tidak bisa jadi imam dalam sholat, bukan?” sambungnya lagi.
“Ya, tetapi setiap nabi itu lahir dari seorang perempuan. Toh kamu paham, sayang. Kita telah selesaikan pembahasan ini begitu panjang, di malam sebelum buku Gogol diselesaikan,” jawab kekasihnya.
“Begitu juga patriarki, sayang. Tidak ada yang harus lebih superior atas manusia yang lain. Bukankah begitu? Toh laki-laki juga wajib sadar bahwa tak perlu memandang tenaga. Tak perlu memandang siapa yang lebih dulu ada di surga. Kehendak yang sama: manusia adalah satu. Jadi tidaklah membedakan, toh kita manusia, bukan?”
“Kadang barisan perlawanan dihancurkan karena ego paham ini. Kita dipertaruhkan soal hal yang tidak perlu untuk diperdebatkan, sebab hanya soal paham. Mengapa tidak kita memandang sebelum jenis kelamin, kita adalah manusia?” ucap Neran sambil membakar rokok, memesan kopi di pedagang keliling.
“Kita selesaikan saja semua ini. Tak baik lelaki superior, dan tak baik juga perempuan superior. Hanya saja, sayang, kita boleh memandang semua yang ada. Tak boleh yang sama. Begitulah hidup. Sebab kita tidak hidup tanpa tanda. Dan tidaklah baik begitu datar-datar saja.”
“Bagaimana tentang kita?” sambung Neran.
“Cukup. Kamu menaruh kepala di bahuku dan ceritakan semua risau-mu. Sambil aku balas dengan sapuan lembut. Sayang, aku di sini bukan hanya mendengar,” ucap kekasihnya.
Sambil tersenyum, Neran menuju mobil komando untuk menyampaikan aspirasi dengan rokok di tangan kanan dan berteriak:
“Merdeka!”
Selesai.
Tidak jadi.
Bersambung.....
Editor : Amrozi

Komentar
Posting Komentar