Langsung ke konten utama

Budaya Berpadu di Ruang Kaderisasi: Mahasiswa Asal Sudan Ikut LK 1 HMI Komisariat Unitri, Satukan Wajah Islam Inklusif Lintas Negara

Foto Mahasiswa Asal Sudan, Khaled Mohammed Haroun(kiri)- Dok: Lapmihmimalang/Lukman

Malang, LAPMI - Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Unitri (KOMUNI) Malang kembali mencatat sejarah baru dengan menyelenggarakan Latihan Kader 1 (LK 1) atau Basic Training pada 7–9 November 2025 di Graha Yakusa, Kabupaten Malang. Agenda kaderisasi tahunan ini hadir dengan nuansa yang berbeda karena untuk pertama kalinya diikuti peserta dari mancanegara, semakin menegaskan posisi HMI sebagai organisasi mahasiswa muslim yang inklusif serta terbuka terhadap keberagaman budaya dan bangsa.

Kegiatan LK 1 diikuti oleh 22 mahasiswa baru dari berbagai fakultas di Universitas Tribhuwana Tunggadewi. Namun perhatian peserta tertuju pada kehadiran Khaled Mohammed Haroun, mahasiswa asal Sudan yang tengah menempuh studi di Unitri Malang. Kehadirannya menjadi simbol bahwa nilai keislaman dan keindonesiaan yang diusung HMI mampu merangkul generasi muda lintas negara.

Sebagai mahasiswa internasional, Khaled menjadi representasi nyata bahwa HMI bukan hanya ruang diskusi intelektual, tetapi juga ruang pertemuan budaya. Interaksi lintas bangsa yang hadir di forum LK 1 memperkaya pemahaman peserta mengenai keberagaman umat Islam serta realitas pergerakan mahasiswa di berbagai belahan dunia. Nilai ukhuwah Islamiyah terasa kuat, sekaligus memperluas interpretasi keindonesiaan sebagai identitas yang ramah, terbuka, dan berjiwa persaudaraan.

“Kegiatan ini menguatkan langkah saya untuk terus tumbuh, belajar, dan berproses. Banyak pengalaman baru dan pengetahuan penting tentang Islam, Indonesia, dan budaya organisasi yang baru saya temukan di sini,” ujar Khaled dengan penuh antusias.

Selama sesi materi, Khaled beberapa kali membagikan pengalamannya mengenai kondisi pendidikan di Sudan, perjalanan intelektualnya sebagai mahasiswa muslim, hingga alasannya memilih Indonesia sebagai tempat menuntut ilmu. Cerita-cerita tersebut membuka cakrawala peserta mengenai perbedaan latar budaya, tetapi tetap menunjukkan bahwa semangat keislaman, keilmuan, dan perjuangan mahasiswa adalah bahasa universal yang menyatukan.

Pada penyampaian materi Nilai Dasar Perjuangan (NDP), peserta diajak memahami bagaimana HMI menempatkan Islam sebagai fondasi moral dan intelektual, sementara Keindonesiaan menjadi bingkai perjuangan sosial kemasyarakatan. Di sinilah kehadiran peserta lintas negara seperti Khaled memperkaya diskusi, karena ia turut membandingkan nilai-nilai tersebut dengan konteks masyarakat muslim di negaranya.

Selama tiga hari pelaksanaan, Graha Yakusa dipenuhi atmosfer belajar, diskusi kritis, dan kebersamaan. Sejak pagi hingga malam, peserta mengikuti rangkaian materi seperti Sejarah HMI, Keislaman dan Keindonesiaan, Kepemimpinan, dan Manajemen Aksi. Pada malam hari, mereka melaksanakan refleksi serta evaluasi untuk memperkuat pemahaman atas nilai yang diperoleh. Suasana intens ini menunjukkan bagaimana LK 1 menjadi ruang pembentukan karakter dan jati diri kader HMI.

Ketua Umum Komisariat, Busairi Yanto, menegaskan bahwa keberagaman peserta menjadi kekuatan tersendiri dalam proses kaderisasi kali ini. “LK 1 tahun ini lebih bermakna karena peserta belajar, berproses, dan bersaudara tanpa mengenal batas geografis. Ini bukti bahwa semangat Islam mampu menyatukan hati dan pikiran,” ujarnya.

Busairi juga menambahkan bahwa kehadiran peserta dari luar negeri memperkuat misi HMI untuk membangun kader muslim yang berwawasan internasional, tanpa meninggalkan nilai keindonesiaan yang menjunjung toleransi, persaudaraan, dan kecintaan terhadap tanah air. Menurutnya, kolaborasi budaya dan pemikiran dalam forum ini merupakan bentuk nyata dari cita-cita HMI menuju masyarakat adil makmur berdasarkan Islam.

Dengan dinamika diskusi yang kaya, keberagaman peserta, serta jalinan persaudaraan lintas negara, LK 1 HMI Komisariat Unitri Malang tahun 2025 berhasil menjadi ruang pembinaan yang tidak hanya melahirkan kader intelektual, tetapi juga kader yang memahami pentingnya keberagaman budaya dalam bingkai nilai Islam dan Keindonesiaan. Kegiatan ini menegaskan komitmen HMI KOMUNI dalam mencetak insan akademis muslim yang kritis, berdaya juang, berkarakter, dan menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah yang bersifat universal.


Pewarta : Lukman Timolubaq
Editor     : Amrozi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

Demi Party di Yudisium, Kampus UIBU Malang Poroti Mahasiswa

  Kampus UIBU Malang dan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Yudisium Malang, LAPMI - Universitas Insan Budi Utomo Malang yang biasa disebut kampus UIBU akan menggelar acara yudisium dengan tarif 750.000. Sesuai informasi yang beredar yudisium tersebut akan digelar pada hari Rabu (14 Agustus 2024) dan akan dikonsep dengan acara Party/Dj. Hal tersebut membuat kontroversi di kalangan mahasiswa UIBU lantaran transparansi pendanaan yang tidak jelas dan acara yudisium yang dikonsep dengan acara party/DJ. Salah satu mahasiswa berinisial W angkatan 2020 saat diwawancarai mengatakan bahwa Yudisium yang akan digelar sangat tidak pro terhadap mahasiswa dan juga menyengsarakan mahasiswa dikarenakan kenaikan pembayaran yang tidak wajar dan hanya memprioritaskan acara Party/Dj. “Yudisium yang akan digelar ini konsepnya tidak jelas dan tidak pro mahasiswa, tahun lalu tarifnya masih 500.000 tapi sekarang naik 250.000 menjadi 750.000, teman-teman kami tentu banyak yang merasakan keresehan ini. Pihak...