Simbol dan Identitas: Tinjauan Kritis Interaksionalisme Simbolik atas Fenomena Sosial Pengibaran Bendera Jolly Roger (One Piece)
![]() |
| Muhammad Ali Makki (Direktur PP LAPMI HMI Cabang Malang) |
Malang, LAPMI- Dewasa ini, publik digemparkan dengan kontroversi pengibaran bendera bajak laut “Jolly Roger” khas anime “On Piece” menjelang Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80. Fenomena sosial bendera “Jolly Roger” dari serial anime “One Piece” yang berkibar menjelang kemerdekaan bukan hanya sekadar tren atau bentuk iseng semata, melainkan manifestasi kuat dari makna simbolik dan identitas sosial yang menjadi tanda bahwa rakyat mulai bosan terhadap negara yang hanya bisa memerintah, bukan mendengar. Ketika keadilan hanya milik segelintir orang, dan suara rakyat dianggap hanya dianggap sebagai angin lalu, maka simbol perlawanan dicari dari cerita dan identitas fiksi. Tengkorak bertopi jerami dalam bendera “Jolly Roger One Piece” bukan sebuah pelarian, tetapi sindiran. Bahwa negeri ini makin mirip dengan Pemerintah Dunia Fiksi, dalam hal ini “One Piece”: menindas dari atas, buta dari bawah.
Bendera “Jolly Roger” dalam konteks “One Piece” merupakan simbol yang kaya arti: ia melambangkan kebebasan, solidaritas, perlawanan terhadap penindasan, serta semangat persahabatan dan perjuangan melawan ketidakadilan. Secara spesifik, bendera Topi Jerami yang dipimpin oleh Monkey D. Luffy, tokoh utama dalam cerita “One Piece”, menjadi lambang identitas dan idealisme yang menyatukan kru bajak lautnya dalam misi petualangan dan impian besar mereka. Dan ketika simbol ini diadopsi dalam konteks sosial Indonesia, pengibaran bendera “Jolly Roger” berfungsi sebagai ungkapan kritik sosial yang melampaui konteks hiburan. Dalam sosiologi budaya, simbol seperti anime, film, dan musik bisa dijadikan sarana krirtik terhadap sistem sosial dan tatanan pemerintahan. Dan melalui simbol ini (bendera One Piece), kelompok masyarakat terutama generasi muda, menyampaikan kekecewaan dan protes mereka terhadap pemerintah dan kondisi sosial-politik yang dianggap timpang dan tidak adil. Penggunaan simbol bajak laut tersebut sebagai tandingan terhadap bendera Merah Putih yang dianggap "terlalu suci" untuk mewakili kondisi negara saat ini, menjadi wujud negosiasi makna yang konstruktif dalam interaksi sosial, sekaligus manifestasi identitas sosial baru yang menggabungkan “pop culture” (budaya pop) dengan kritik sosial.
Dalam Interaksionalisme Simbolik, makna sebuah simbol bersifat dinamis dan tergantung pada konteks komunikasi antar individu dalam masyarakat. Pengibaran bendera ini adalah bentuk interaksi simbolik yang menciptakan ruang dialog kritis antar warga, khususnya generasi muda dalam merespon situasi sosial-politik-ekonomi saat ini. Melalui simbol bajak laut yang identik dengan perlawanan terhadap penguasa, mereka menegaskan identitas kolektif sebagai pihak yang menolak dominasi, sekaligus mengartikulasikan harapan akan perubahan dan keadilan sosial. Lebih lanjut, fenomena ini menunjukkan bagaimana simbol “pop culture”(budaya pop) dapat berperan sebagai media komunikasi sosial yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan kritis di luar kanal politik formal. Interaksionalisme simbolik membantu menjelaskan proses transformasi makna dari simbol fiksi menjadi simbol sosial-politik yang relevan dan signifikan dalam kehidupan nyata.
Menurut teori Interaksionalisme Simbolik, simbol-simbol hanya bermakna sejauh mana ia dimaknai secara sosial melalui interaksi. Di sinilah ironi muncul: ketika generasi muda merasa lebih bermakna mengibarkan bendera fiksi bajak laut ketimbang bendera nasional, maka pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya siapa yang salah, tetapi kenapa makna simbol negara mulai kehilangan daya ikatnya?
Pengibaran bendera “One Piece” bukan sekadar bentuk ekspresi “pop culture”, melainkan bentuk simbolik dari alienasi sebuah kritik diam terhadap tatanan sosial yang gagal membangun kedekatan antara identitas negara dan generasi muda. Tiang bendera yang sakral dalam imajinasi negara, bagi sebagian anak muda justru telah menjadi ruang kosong yang bisa diisi makna baru. Dalam bahasa interaksionalis, makna simbol negara telah mengalami dislokasi sosial: tidak lagi didefinisikan bersama, tetapi dimonopoli oleh wacana formal dan kekuasaan. Fenomena ini menunjukkan adanya kegagalan institusi dalam menjaga “shared meaning” terhadap simbol nasional. Negara terlalu sibuk menjaga bentuk, tetapi lalai memperbaharui isi. Bendera Merah Putih dikibarkan setiap hari, tapi tidak lagi "dihidupi" dalam nilai keseharian, berbeda dengan “One Piece”, yang melalui narasinya justru menawarkan nilai keadilan, solidaritas, dan perlawanan terhadap kekuasaan yang korup. Kritik ini bukan untuk membenarkan tindakan pengibaran bendera bajak laut, tetapi untuk menantang kenyamanan semu bahwa simbol negara masih sepenuhnya dimaknai oleh generasi penerus. Ketika simbol kehilangan daya tarik dan koneksi makna, maka ruang kosong itu akan diisi oleh apapun, termasuk oleh fiksi.
Walaupun pengibaran bendera “Jolly Roger” ini mendapatkan kritik, karena dianggap provokatif oleh sebagian pihak termasuk oleh pemerintah, yang menganggapnya pemecah belah bangsa dan dianggap sebagai pelanggaran hukum terhadap kehormatan bendera negara, kekuatan simbol bendera “One Piece” justru terletak pada kemampuannya yang memicu diskusi sosial dan merefleksikan kegelisahan sekaligus harapan masyarakat terhadap perubahan sistem sosial-politik-ekonomi secara damai dan simbolik.
Dengan demikian, pengibaran bendera “Jolly Roger” dari “One Piece” adalah sebuah fenomena sosial yang mencerminkan konstruksi identitas kolektif dan komunikasi simbolik yang kompleks. Simbol ini tidak hanya menjadi penanda perlawanan, tetapi juga media untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan solidaritas dalam konteks sosial-politik-ekonomi Indonesia saat ini. Perspektif interaksionalisme simbolik memperkuat pemahaman bahwa identitas dan makna sosial terbentuk melalui interaksi simbolik yang terus berkembang di masyarakat. Fenomena pengibaran bendera “Jolly Roger” dalam konteks sosial Indonesia saat ini menggambarkan bahwa simbol dan identitas adalah sesuatu yang hidup dan berubah, mencerminkan kondisi psikososial masyarakat yang tengah mengalami ketidakpuasan dan berharap akan perubahan. Dan menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa, anime kini bukan hanya sekadar tontonan, tapi juga bisa menjadi alat perlawanan simbolik terhadap negara yang dianggap gagal memenuhi nilai keadilan sosial.
Editor : Taufiqurrahman

Komentar
Posting Komentar