![]() |
| Mijar Alif Fahmi (Terpenting Isinya Bukan Titelnya) |
Malang, LAPMI - Sudah saatnya kita berhenti sebentar dan merenung dalam-dalam: yang benar-benar hilang arah itu siapa? HMI-nya, atau justru kader-kadernya? Pertanyaan ini bukan untuk menyudutkan, tapi sebagai alarm keras atas kenyataan pahit yang makin sulit diabaikan. Di tengah kebanggaan atas sejarah dan romantisme masa lalu HMI, kita harus berani menatap cermin dan mengakui bahwa ada yang tidak beres. Ada yang tidak sedang berjalan ke arah yang benar.
HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sering dielu-elukan sebagai laboratorium kepemimpinan, kawah candradimuka perjuangan umat dan bangsa, serta gudangnya intelektual Muslim. Namun hari ini, ketika kita menyelami realitas yang terjadi, muncul pertanyaan yang menggelitik dan sekaligus menyakitkan: apakah HMI yang kehilangan arah, atau kader-kadernya yang tersesat dan lupa jalan pulang?
Pertanyaan ini tak akan menemukan jawabannya jika kita hanya berlindung di balik kebanggaan struktural, slogan-slogan formal, atau klaim sejarah. Yang dibutuhkan adalah kejujuran kolektif, keterbukaan untuk mengakui bahwa ada yang harus dikoreksi secara mendasar.
1. Organisasi Masih Punya Tujuan, Tapi Banyak Kader Kehilangan Makna
Secara struktural dan ideologis, HMI tidak kekurangan arah. Nilai-nilai dasar perjuangan, independensi, dan sistem perkaderan semua sudah tertulis rapi bahkan diwariskan secara turun-temurun. Tapi sayangnya, banyak kader hari ini memperlakukan nilai-nilai itu seperti dokumen nostalgia belaka. Dibaca saat Latihan Kader, dilupakan sesudahnya.
Tak sedikit yang masuk HMI bukan karena semangat intelektual atau idealisme, melainkan karena ajakan teman, ikut tren kampus, atau cuma ingin "terlihat aktif". Kaderisasi bukan lagi ruang pembentukan karakter, tapi formalitas administratif demi sertifikat dan status. Akhirnya, HMI lebih mirip klub sosial ketimbang organisasi perjuangan.
Kegiatan ramai saat pelantikan dan konferensi, sepi saat kajian dan pembinaan. Kader aktif saat pencalonan jabatan, lenyap saat masa pengabdian. Rekrutmen dilakukan cepat-cepat, tanpa pembinaan yang mendalam.
Gejala umum yang nyata:
• Banyak yang hadir di forum, tapi tidak hadir dalam misi organisasi
• Kegiatan digelar, tapi nihil refleksi dan tindak lanjut
• Pengkaderan berlangsung cepat, tapi tak membekas secara substansial.
Catatan penting:
Ketika nilai hanya menjadi hafalan saat forum kaderisasi, tetapi tidak menjadi laku hidup, maka tujuan organisasi tak lebih dari sekadar tulisan indah dalam buku pedoman. Kader hadir secara administratif, tapi kosong secara ideologis.
2. Budaya Internal Bergeser: Dari Nilai ke Simbolik
Dulu, kader HMI dikenal dengan semangat diskusinya, daya kritisnya, dan kepekaan sosialnya. Kini, atribut HMI lebih sering dipakai sebagai simbol identitas daripada cerminan nilai. Diskusi bukan lagi tempat bertukar gagasan, tapi ajang pamer kutipan. Spiritualitas tergantikan oleh pencitraan.
Banyak yang bangga memakai jas almamater HMI, tapi tak bisa menjelaskan makna nilai-nilai dasarnya. Jabatan dikejar bukan sebagai amanah, tapi sebagai "branding".
Ukhuwah tak lagi tulus relasi dibangun karena kepentingan, bukan kepercayaan.
Organisasi yang seharusnya mendidik kader menjadi manusia paripurna justru menjadi tempat subur bagi "politisi kecil-kecilan" yang sibuk membangun pengaruh tanpa kapasitas yang memadai.
Indikator Pergeseran:
• Diskusi menjadi ajang pamer literasi, bukan proses dialektika nilai
• Relasi dibentuk berdasarkan aliansi, bukan integritas dan kepercayaan
• Ukhuwah dijadikan jargon, bukan relasi otentik yang saling menguatkan.
Catatan Penting:
Tak sedikit kader yang “tampil Islami” hanya dalam acara formal, tapi kehilangan empati sosial. Ketika simbol menjadi panglima, maka HMI kehilangan kedalaman dan menjadi organisasi permukaan.
3. Kultur Senioritas: Bukan Lagi Membina, Tapi Mengatur
Salah satu penyakit akut dalam tubuh HMI hari ini adalah kultur senioritas yang toksik. Alih-alih membina, banyak senior merasa harus selalu menjadi pusat keputusan. Ruang tumbuh kader muda menjadi sempit karena selalu dibayangi "petuah" yang tidak boleh dibantah.
Banyak keputusan organisasi bukan hasil dialektika, tapi hasil "bisikan senior".
Perbedaan pendapat dianggap pembangkangan. Kader muda takut berinisiatif karena khawatir “tidak sesuai garis”. Senioritas berubah jadi feodalisme gaya baru. Padahal, kader muda butuh ruang eksplorasi, bukan hanya menerima instruksi. Pada prinsipnya kita tidak boleh membenci senior akan tetapi kita harus sadar betul bahwa senior di HMI hanya memiliki dua fungsi penting yaitu pertama memberikan saran dan kedua memberikan pertimbangan dan selebihnya biarkan kader yang menentukan.
Akibatnya:
• Kader muda kehilangan ruang belajar dan berekspresi.
• Dialektika digantikan dengan dogma satu arah.
• Ruang evaluasi berubah jadi ajang pembenaran struktur.
Catatan Penting:
Senior bukan untuk ditakuti, tapi dijadikan panutan. Jika yang tua tak bisa jadi teladan, maka yang muda akan belajar dari kekeliruan.
4. Pengurus yang Tak Mendidik, Malah Butuh Dibina
Ini bagian paling getir tapi penting untuk dikatakan: banyak pengurus struktural hari ini tidak lagi layak disebut pendidik, tapi malah harusnya dididik ulang. Mental pengurus yang mestinya jadi role model justru terjebak dalam mental instan: malas baca, malas diskusi, malas riset, tapi rajin tampil di depan. Sibuk kelola rapat tapi lupa makna kepemimpinan. Alih-alih mendampingi kader, mereka sibuk bikin jaringan untuk posisi selanjutnya. Cita-cita membina umat tergantikan oleh ambisi “naik level” di organisasi. HMI jadi lucu: yang mestinya memimpin malah butuh dipimpin ulang. Yang mestinya mendidik malah bikin bingung.
Realitas di lapangan:
• Jarang hadir dalam proses pembinaan, tapi rajin mengatur teknis kegiatan.
• Tak punya peta kaderisasi, tapi sibuk merancang rencana politik pribadi.
• Lebih fokus membangun jaringan eksternal daripada membina internal.
Catatan Penting:
Jika pengurus HMI tak mampu membentuk karakter kader, maka mereka tidak sedang menjalankan mandat organisasi melainkan hanya sekadar numpang nama.
5. Independensi yang Dikhianati oleh Kepentingan
Independensi adalah jantung HMI. Tapi kini, prinsip itu berulang kali dikompromikan demi akses, fasilitas, dan kekuasaan. Alih-alih menjadi kekuatan penyeimbang, HMI sering tampak gamang ikut menari di panggung kekuasaan tanpa kompas nilai yang jelas. Agenda organisasi berubah mengikuti sponsor eksternal. Advokasi hanya dilakukan jika ada "nilai jual politik". HMI lebih sibuk menjadi “agen kampanye” daripada pembela umat. Jika dibiarkan, HMI akan kehilangan otoritas moralnya dan hanya menjadi kendaraan kepentingan sesaat.
Gejalanya:
• Agenda disesuaikan demi “menyenangkan sponsor”.
• Isu diperjuangkan berdasarkan nilai proyek, bukan nilai perjuangan.
• Kader digiring menjadi alat politik, bukan pembela umat.
Catatan penting:
Ketika independensi dikorbankan, HMI kehilangan jati dirinya. Ia tak lagi menjadi kekuatan moral umat, tetapi hanya menjadi penumpang kekuasaan yang mudah digiring dan dilupakan.
6. Gagal Merespons Zaman: Sibuk dengan Drama Internal
Kita hidup di era disrupsi, ketimpangan, krisis iklim, digitalisasi, dan radikalisasi identitas. Tapi sayangnya, banyak kader HMI masih sibuk pada dinamika internal: rebutan jabatan, konflik dari tataran komisariat hingga PB HmI, dan drama pemilihan pengurus.
Kajian tentang isu kontemporer minim, tidak terhubung dengan realitas. Tidak ada inovasi kaderisasi. Kader lebih fokus pada “konspirasi internal” daripada strategi eksternal. Padahal, kalau HMI tidak mampu membaca zaman, ia akan tertinggal dan dilupakan. Yang tersisa hanya nama besar tanpa relevansi, tanpa daya dorong.
Realitasnya:
• Kegiatan digitalisasi organisasi jalan di tempat.
• Inovasi kaderisasi tak muncul, karena pola pikir masih analog.
• Wacana publik dikuasai organisasi lain, karena HMI kehilangan daya saing intelektual.
Catatan Penting:
Jika HMI tidak segera membaca zaman, maka ia akan menjadi relik sejarah yang dibanggakan tapi tidak relevan. HMI akan menjadi nama besar tanpa substansi.
7. Intelektual Kritis Diganti Mental Komoditas
Intelektual organik kini langka. Kader yang seharusnya menjadi pembaca realitas, perumus gagasan, dan penyusun strategi perjuangan kini banyak yang terjebak menjadi "pemain proyek" atau "pengumpul panggung". Ilmu hanya digunakan untuk menulis proposal, bukan mendorong perubahan.
Sedikit yang menulis gagasan, tapi ramai yang rebutan bicara. Jarang yang ikut riset, tapi ramai yang cari pengaruh di grup WA. Forum-forum internal dipenuhi basa-basi dan salam tempel, bukan dialektika pemikiran. HMI butuh lebih banyak pemikir, bukan pelobi. Butuh pemimpin yang membentuk kader, bukan yang membentuk kroni.
Fenomena Umum:
• Riset dianggap kegiatan yang membosankan.
• Gagasan orisinal jarang muncul.
• Banyak yang berbicara, sedikit yang berpikir.
Catatan Penting:
Jika kader hanya berlomba naik panggung tanpa memperdalam isi, maka organisasi ini akan dipenuhi orator, bukan pemikir. HMI bukan panggung teater—ia adalah ruang pembentukan ide dan aksi.
Penutup: HMI Bisa Bangkit, Tapi Butuh Kejujuran Kolektif
HMI tidak sepenuhnya kehilangan arah. Tapi banyak kadernya yang sudah kehilangan kejujuran, kehilangan ruh, dan kehilangan komitmen. Jika ingin menyelamatkan HMI, maka kompas arah itu harus dibenahi dari dalam. Mulai dari niat saat menjadi kader, cara memahami nilai, sampai bagaimana bersikap dalam organisasi. Bukan sekadar hadir di forum, tapi hadir dengan pemahaman dan kontribusi.
Organisasi ini dibangun bukan untuk jadi tempat kumpul-kumpul belaka. Ia adalah alat perjuangan umat dan bangsa. Kalau kita kehilangan itu semua, maka HMI bukan lagi kawah candradimuka, tapi hanya akan menjadi panggung gimik yang murahan.
Karena HMI tidak butuh banyak kader yang hadir di forum HMI butuh sedikit kader yang paham arah perjuangan. Jika bukan kader HmI sendiri yang memperjuangkan ini lantas siapa lagi ?

Komentar
Posting Komentar