Tutorial Bernafas bagi Pemula, Sebuah Kritik terhadap Cara Bernafas Hari ini, PENDIDIKAN DALAM PUSARAN KOMODITAS ATAS HEGEMONI KONSEP PASAR
![]() |
| Penulis/Rahmat Watimena |
Malang, LAPMI - Pendidikan telah dirubah wajahnya dari yang seharusnya menjadi paradigma melihat realitas lebih rasional dengan tajam, hari ini telah kita dapatkan bahwa berbagai macam lauk di atas meja dihidangkan untuk segerombolan manusia dimana muaranya adalah toilet sebagai pembuangan akhir setelah proses konsumsi itu selesai, begitu juga pendidikan mencetak lebih banyak pekerja yang notabenenya masih sedikit dilihat dari keterampilan personalnya, ketimbang kampus mana yang mencetaknya sebagai pekerja.
Tranformasi kampus yang lebih banyak mencetak pekerja memberikan tanda bahwa paradigma kampus menciptakan pekerja dengan sendirinya menciptakan bahaya besar yang akan meledak berkemungkinan menjadi tafsir bahaya ketika tantangan bonus demografi itu hadir di Indonesia keluar sebagai negara gagal seperti Afrika Selatan dan Brazil, ataukah negara berhasil seperti jepang dan Australia, di mana dengan banyaknya kaum terampil ini bisa mengubah arah ekonomi nasional, dari corak ekonomi negara berkembang ke ekonomi corak negara maju. Bagaimana bentuk corak ekonomi tersebut? apakah menyerap banyak tenaga kerja yang notabenenya generasi muda?. Ada bahaya yang telah di lihat defortasi hutan akibat banyaknya izin tambang dan Hutan tropis menjadi lahan petanian industri yang secara tidak langsung memberikan karpet merah untuk sawit dan tambang, yang peyerapan tenaga kerja lebih rendah dari usaha kecil menengah (UMKM)
Sudahlah kita selesaikan ini ada sebuah cerita kecil yang di kemas dengan senyuman tipis terpampang jelas paraf kepala sekolah, bahkan paraf seorang rektor terpampang jelas seperti bungkus gorengan lima ribu tiga di samping jalan jendral Sudirman.
Tema besar di banner bekas tulisan lama dengan bekas cat warna hitam harga dua puluh lima ribu dari sang pembuat ada penegasan harus baca dengan lantang.
Kalimatnya begini
"PENDIDIKAN INDONESIA DAN HEGEMONI KONSEP PASAR "
Ada satu kertas berserakan yang menjelaskan bagaimana tema besar itu bisa hadir kemungkinan, sepertinya bukan kemungkinan tapi mungkin, penulis resah ataukah mengangggap ga renceh ini keadaan yang dia jejali jadi begini tulisan itu.
" Pendidikan Indonesia telah keluar dari subtansi yang di harapkan pendidikan yang semula harus menjadi kebutuhan dasar manusia untuk menggali potensi diri dan intelektualitas, berbalik arah menjadi mesin produksi pekerja yang sesuai dengan kebutuhan industri dan kebutuhan dunia kerja kemudian lebih mementingkan pasar bebas sebagai orientasi utama, kapitalisasi pendidikan akan menciptakan distribusi pendidikan yang tidak merata bukan saja berdampak pada kualitas pendidikan namun tenaga pengajar dan peserta didik seringkali merasakan imbasnya di mana ada jurang pemisah antara tenaga pendidik yang memiliki masalah pada upah dan kesejahteraan hidup yang tergolong rendah dan kualitas hidup hukum hidup di Indonesia juga yang paling banyak kita temukan sebagai seorang pengajar adalah pengabdian, ekplorasi ekpolitasi birokrasi di republik ini beda tipis dengan kolonial di mana hanya berbeda wajah saja, di mana ekplorasi ekpolitasi tersebut sampai pada ruang ruang pendidikan yang seharunya tak ada monopoli jika ingin di sampaikan lebih jauh maka biarkan institusi kesehatan dan pendidikan menjadi zona netral atas politik anggaran kementerian dalam pengambilan keputusan karna dua instusi ini menjadi ladang kebutuhan yang paling urgent wajib di penuhi tanpa ada alasan apapun, beberapa daerah provinsi masuk dalam zonasi tertinggal, terdepan dan terpencil, bisa kita lihat bersama bahwa ada dua belas kabupaten/kota hanya dua rumah sakit umum yang sesuai standar yang di tetapkan kementerian kesehatan,
"Benar-benar sabar menjadi warga Indonesia"
Ucapannya spotan
Semakin hari yang mengakses pendidikan begitu mahal dalam dunia pendidikan yang sering kita temukan adalah DOWN PAYMENT sudah di terapkan bukan hanya di perusahan swasta atau penyedia pembeli transportasi tapi di dunia pendidikan secara garis besar DOWN PAYMENT memeliki prinsip, jika uang muka nya rendah maka angsuran akan tinggi dan jika uang muka tinggi maka angsuran akan rendah, tanpa sadar dunia kampus telah ada hukum pasar down payment dalam dunia pendidikan pendekatannya sesederhana ini pembayaran Dana pengembangan pendidikan (DPP) sebut saja sebagai uang muka (DP) jika harganya tinggi maka sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) yang kemudian kita sebut sebagai angsuran akan rendah, sehingga kampus-kampus yang dulunya jaya atas prestasi alumninya semakin sulit di akses kalau hanya bermodalkan keberanian saja tidak cukup, namun wajib bermodalkan kondisi ekonomi di atas kata berkecukupan maka sering kali kita temukan di dunia kampus, semakin mahal akses pendidikan maka semakin bagus kualitas pendidikan tersebut, Di tekankan lagi bahwa di mana setiap tahun sumbangan pembinaan pendidikan (SPP) setiap tahun naik namun tenaga pengajar kualitas hidupnya tidak berubah Dan bentuk infrastruktur penunjang belajar mengajar tetap begitu-begitu saja namun mahasiswa sering di kejar dengan Biaya SPP yang wajib di selesaikan dua kali dalam setahun sebagai bentuk penanggung jawab untuk mendapatkan fasilitas kampus, namun pertanyaan yang muncul kampus bertanggung jawab sejauh mana atas kualitas pendidikan yang telah di berikan apakah ada evaluasi yang mendalam dengan peristiwa yang sering terjadi di mana mahasiswa lebih banyak di lihat pada status ras dan dari mana asalnya jarang sekali kita mendengar itu sebagai watak kampus ketika benturan fisik antara mahasiswa dan warga maupun mahasiswa dan mahasiswa, di tegakan kembali namun paling banyak kita dengar sebagai watak daerah.
Lantas sebab apa di kembalikan kepada watak daerah bukan watak kampus ?, mungkin saja di luar jam kampus ? Namun pertanyaanya distribusi kualitas pendidikan sudah sejauh mana ? Konteks ini yang menjadi tanggung jawab kampus, kalau di lihat dari pada konflik yang terjadi tanpa mempertimbangkan efek ekonomi pada warga sekitar, harunya lebih kental sebagai watak kampus, sayangnya kampus tidak mau tercoreng oleh tingkah laku, mahasiswanya efek dominonya adalah penurunan mahasiswa baru, bukan hanya itu pendidikan di kampus di Indonesia hari ini tidak mampu merubah watak mahasiwa dari malas membaca ke rajin membaca kampus belum mampu sesederhana itu, toh kurikulum tingkat satuan pendidikan serubah sesuai dengan siapa pemegang kebijakan kementerian yang menjalankan kerja atas kualitas pendidikan di Indonesia kemudian , notabennya kurikulum tersebut nanti di rasakan hasilnya dua puluh tahun mendatang, berjalan lebih jauh lagi sekolah menengah atas (SMA) yang sesuai dengan kurikulum internasional masih bisa kita hitung dengan jari, maka jarang sekali kita dapati adanya anak-anak artis papan atas dan para pejabat yang anaknya yang sekolah dari SD sampai SMA yang mengenyam pendidikan di sekolah negeri
" Mungkin juga menteri yang membawahi urusan pendidikan hari ini tidak ada anaknya yang sekolah di sekolah negeri"
Berbicara nyaring di sambut tertawa tipis
Sambil membalikan kertas berikutnya dari halaman satu ke halaman lainnya
Kita bertemu dengan BAB berikutnya dengan tulisan hitam tebal bolt biasa mereka menyebutnya ada redaksi begini
"PRODUKSI KAMPUS SEBAGAI WAHANA PRODUKSI PREFEKTIF KOMIDITAS SEBAGAI PRODUKSI KAPITAL "
Sebentar rokok sebatang saya yang sudah saya hisap setengah ingin saya bakar dulu, kopi semalam yang mengigil dan lemas di pagi hari saya seduh dulu, tangan memegang roko dan sebelahnya memegang kertas dan hendak lanjut membaca
Hitungan tiga,dua satu, mulai lah saya membaca dengan jidat mengkerut kata yang pertama kali terucap barang atau jasa yang memiliki nilai ekonomi kemudian di kenal sebagai Komoditas sebagai kata pertama, sebagai bentuk dasar kekayaan kelas sosial yang memegang dan mengendalik alat-alat produksi yang bahasa kerennya Borjuis, adalah titik tolak dalam melihat bab ini sebagai awal dari anggap munculnya modal sebagai definisi kapital, di titik pandang yang berbeda barang atau jasa yang memiliki nilai ekonomi (komoditas) kini muncul sebagai kapital Titik pandang ini sebagai kursus melingkar yang di ambil oleh penulis sebagai esensi pembahasan kita, dengan kacamata yang berbeda kita bisa melihat bahwa sesuai dengan perkembangan historis kapital memiliki salah satu syarat munculnya adalah pertukaran komoditas dan perdagangan komoditas namun kondisi ini sendiri terbentuk atas dasar hadirnya dengan alasan jalanya tahap produksi yang berbeda-beda, semuanya memiliki kesamaan situasi di mana produksi kapitalis yang belum memiliki sama sekali atau muncul secara acak atau tidak teratur, dengan kacamata itu pula kita bisa melihat di sudut pandang yang berbeda, pertukaran komoditas dalam perkembangannya secara penuh dan bentuk bentuk komoditas sebagai bentuk sosial dari hasil produksi yang di perlukan secara luas pertama kali lahir sebagai hasil dari cara produksi individu atau kelompok yang memegang modal yang menggunakannya untuk berinvestasi dalam produksi barang atau jasa dengan tujuan menghasilkan keuntungan namun di sudut pandang yang berlawanan arah, bilang mempertimbangkan masyarakat di mana produksi individu atau kelompok yang memegang modal yang menggunakannya untuk berinvestasi dalam produksi barang atau jasa dengan tujuan menghasilkan keuntungan telah berkembang sepenuhnya, maka di sana komoditas muncul sebagai awal dari anggapan yang menyiratkan kejadian atau pengulangan yang seragam atau terus-menerus dari kapital dan arah yang berbeda pula sebagai hasil langsung dari produksi kapital, baik komoditas maupun nilai uang merupakan awal dari anggapan dasar kapital bahwa, keduanya akan berkembang menjadi kapital dalam kondisi-kondisi tertentu, perlu kemudian diingat bahwa pembentukan awal dari kapital tidak dapat terjadi terkecuali atas dasar sirkulasi komoditas yang mencakup sirkulasi uang, dengan kata lain pada tahap berkembangnya perdagangan yang sudah di tentukan dan di mana komoditas telah sampai pada perluasan tertentu, namun perlu diingatkan bahwa produksi dan sirkulasi komoditas tidak secara general hadir sebagai solusi atas subtansi namun sebaliknya memberikan suatu perjanjian tertulis bahwa cara produksi kapitalis untuk mengingatkan keberadaanya atas pasar, dengan kata yang berbeda seperti yang telah munculkan, keduanya juga ada dalam formasi sosial pra-borjuis, keduanya merupakan awal anggapan historis dari cara produksi kapital, namun hanya atas dasar produksi kapitalis lah memanfaatkan komoditas menjadi bentuk umum produ, bahwa komoditas mengambil dan kemudian memiliki bentuk komoditas, bahwa penjualan dan pembelian bukan hanya menggesuai jumlah yang lebih dari yang di butuhkan atas produksi tetapi juga subtansinya itu sendiri dan berbagai kondisi produksi itu muncul dengan sendiri dalam totalitas sebagai komoditas yang masuk kedalam proses produksi dan sirkulasi,
Karena itu jika komoditas muncul di satu sisi sebagai awal dari syarat untuk untuk membentuk kapitas, Komoditas juga muncul dari sisi yang berbeda sebagai produk dan hasil proses produksi kapitalis yang hakiki, sejauh merupakan bentuk dasar dari universal
Dari produk, namun pada tahapan produksi yang lebih awal, produk mengambil bentuk sebagian komoditas, namun sebaliknya kapital niscaya produksi produknya sebagai komoditas oleh karena itu sejauh produksi kapitalis yaitu modal, berkembang dengan memiliki hukum-hukum umum yang berkembang berkenaan komoditas contohnya hukum yang berkaitan dengan nilai juga terwujud dalam berbagai bentuk termasuk sirkulasi alat tukar, tampak jelas bagaimana kontek ekonomi yang termasuk dalam tahap produksi sebelumnya ambil bagian dalam karakter sejarah yang berbeda secara detail dan karakternya berdasarkan cara produksi kapitalis yang secara garis besar menjadi rahasia umum bahwa konvensi uang hanyalah bentuk dari komoditas yang dikonveksi, jadi kapital hanya terjadi ketika setelah kapasitas kerja di ubah jadi komoditas bagi pekerja itu sendiri dengan demikian setelah katogori dagang komoditas menguasai bidang yang sebelumnya dikecualikan darinya, atau hanya secara tidak teratur di masukan kedalamnya, hanya ketika pekerja berhenti menjadi bagian dari kondisi objek kerja atau memasukan pasar sebagai produsen komoditas atau menjual tenaga kerjanya sendiri dan lebih tepatnya lagi yang sebelumnya menjadi produk dari tenaga kerjanya berubah menjadi produksi komoditas hingga mencapai batasan maksimal yang di kehendaki, di seluruh detail kecilnya aktivitasnya, hanya pada tahap tersebut produk di ubah menjadi komoditas, dan hanya pada saat kondisi yang benar-benar objektif dari setiap bidang produksi individu masuk ke dalam produksi sebagai komoditas itu sendiri, hanya atas dasar produksi kapitalis komoditas harusnya dengan sadar melihat itu sebagai kekayaan individu atas modal yang di keluarkan secara universal, jika modal belum menguasai pendidikan maka sebagian besar produk dari pendidikan itu akan dimanfaatkan secara langsung sebagai alat penghidupan oleh pemilik modal, dalam redaksi sempitnya petinggi dalam institusi pendidikan tersebutnya tapi perlu di ingat bahwa bukan sebagai komoditas, untuk menunjang hal tersebut sebagian pekerja yang kemudian kita sebut sebagai pengajar berubah menjadi buruh upah, juga sebagian besar kondisi kerja belum akan berubah menjadi kapital, perlu kemudian diingatkan kembali bahwa telah menjadi syarat, bahwa pembagian kerja yang berkembang hari ini telah muncul secara kebetulan di masyarakat di mana semakin tinggi jabatan memiliki corak kerja berpikir dan sebagai rendah jabatan memiliki corak kerja fisik pembagian kerja ini di dalam kelompok akan saling mengkondisikan dan menghasilkan nilai alat tukar karenakan komoditas sebagai bentuk produk yang pasti dan di luar dari produksi komoditas sebagai bentuk pasti juga dari untuk di rampas maka ada produk hukum dari suatu kelompok yang memegang kuasa dalam menciptakan hukum agar ekploitasi baik manusia maupun alam di berikan dengan dasar kepentingan bersama yang kemudian dimaksudkan adalah antara negara dan masyarakatnya, ini mengisyaratkan bahwa pembagian kerja yang sosial yang berkembang sepenuhnya harunya memalui dasar kekuasaan atas pemegang penegakan normatif untuk melindungi haknya, sementara di sudut pandang yang berbeda kita bisa melihat bahwa hanya atas dasar produksi kapitalis, karenya juga pembagian kerja kapitalis dalam tempat produksi semua produk mengambil bentuk komunitas dan semua produs dan dengan alasan inilah bisa kita lihat bahwa ada produsen komoditas, dengan hadirnya produksi kapitalis nilai guna yang pertama kali secara universal di selesai kan Melalui nilai tukar.
"Tiba-tiba pintu berbunyi dengan ketukan tangan yang resah"
"Kemudian suara perempuan mengikuti ketukan tersebut"
"Heii nerannn kamar kos mu kau nunggak sudah tiga bulan"
Ucap perempuan paruh baya itu
"Iya buk, sambil mengucak mata sebelah kanannya matanya dan mencari posisi kunci yang tergantung, iya buk maaf lama "
Balas neran
Sampai jumpa di mimpi-mimpi berikutnya.
SELESAI....
Editor : Rajis Wardi

Komentar
Posting Komentar