Langsung ke konten utama

Doktor Termuda Dr. Reny Tiarantika, S.Pi, M.P, Wisuda Terbaik Universitas Brawijaya Dari S1, S2, Hingga S3, Ini Motivasinya

Dr. Reny Tiarantika, S.Pi, M.P, doktor muda 26 tahun


Malang, LAPMI- Sosok Perempuan Bernama Dr. Reny Tiarantika selalu menjadi lulusan terbaik Universitas Brawijaya (UB), mulai dari S1, S2, hingga S3. Pada puncaknya ia meraih doktor ilmu lingkungan di usia 26 tahun dengan IPK 4.00 wisuda UB Tahun ajaran 2024/2025.

Perempuan inspiratif asal kediri itu memulai jejak Pendidikan tingginya dari S1 Sosial Ekonomi Perikanan dan Ilmu Kelautan UB, S2 Pembangunan Ekonomi dan Kebijakan Pertanian UB, dan S3 Ilmu Lingkungan UB, dan masing-masing studi yang ditempuh ia selalu menjadi lulusan terbaik.

Dr. Reny Tiarantika, S.Pi, M.P menjelaskan perjalanan dalam menjalani studi. Dirinya menilai bahwa manajemen waktu merupakan fondasi penting yang harus dimaksimalkan secara bijak.

“Manajemen waktu bagi saya adalah fondasi utama selama menjalani studi, terlebih karena saya sudah membiasakannya sejak S1. Saya memulai perjalanan akademik dari S1 dengan semangat tinggi sebagai mahasiswa biasa yang ingin terus berkembang. Alhamdulillah, saya bisa menyelesaikan S1 dengan predikat terbaik. Saat lanjut ke S2, tantangan semakin kompleks, terutama membagi waktu antara studi, dan membantu penelitian serta pengabdian dosen. Begitu masuk S3, tantangannya bukan hanya teknis, tetapi juga mental. Saya belajar untuk membagi waktu dengan lebih terstruktur, membuat target-target mingguan, dan tetap menjaga semangat walaupun banyak tekanan. Saya percaya, waktu bukan hanya untuk dihabiskan, tapi harus dimaksimalkan secara bijak.” Jelasnya

Lebih lanjut perempuan yang juga merupakan demisioner Direktur Bidang Penerbitan dan Penyiaran LAPMI HMI Cabang Malang itu mengungkapkan motivasi sebesarnya, bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.

“Motivasi terbesar saya adalah keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan. Saya bukan berasal dari keluarga yang serba ada, tapi saya selalu percaya bahwa dengan kerja keras dan doa, saya bisa meraih apa pun. Sejak S1 saya memperoleh beasiswa, dan Alhamdulillah bisa menyelesaikan S1, S2, hingga S3 dengan prestasi yang cukup memuaskan bagi saya. Itu bukan karena saya paling pintar, tapi karena saya berusaha untuk menjadi pribadi yang gigih. Saya ingin membuktikan bahwa anak daerah, anak biasa, juga bisa menembus dunia akademik tertinggi jika diberi kesempatan. Beasiswa bagi saya bukan hanya bantuan dana, tapi amanah yang harus saya buktikan dengan hasil terbaik.” Ungkapnya

Selain itu, ia juga berpesan kapada mahasiswa untuk tetap semangat dan rendah hati dalam pencapaian.

“Untuk teman-teman mahasiswa, saya ingin menyampaikan bahwa proses itu sama berharganya dengan hasil. Nikmati setiap tantangan sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kapasitas intelektual kita. Jangan ragu untuk bertanya, berdiskusi, dan terbuka terhadap kritik karena itulah yang memperkaya perjalanan akademik kita. Teruslah semangat, tetap rendah hati dalam pencapaian, dan yakinlah bahwa setiap usaha sungguh-sungguh akan membawa hasil yang sepadan pada waktunya.”

Ia juga berharap mahasiswa dapat menghadapi banyak rintangan dan memanfaatkan peluang.

“Saya pun memulai semuanya dari bawah, menghadapi banyak rintangan, bahkan pernah ragu bisa lanjut studi. Tapi jangan berhenti hanya karena merasa lelah atau tertinggal. Belajarlah dengan ikhlas, manfaatkan semua peluang, terutama jika kalian mendapatkan beasiswa. Jangan sia-siakan kepercayaan itu. Harapan saya, semoga teman-teman semua bisa melampaui pencapaian saya. Dan ingat, ilmu bukan untuk disimpan, tapi untuk dibagikan dan digunakan demi kemaslahatan bersama.” Pungkasnya.


Penulis : Ai Novia H.
Editor   : Muhammad Ali Makki


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...

Demi Party di Yudisium, Kampus UIBU Malang Poroti Mahasiswa

  Kampus UIBU Malang dan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Yudisium Malang, LAPMI - Universitas Insan Budi Utomo Malang yang biasa disebut kampus UIBU akan menggelar acara yudisium dengan tarif 750.000. Sesuai informasi yang beredar yudisium tersebut akan digelar pada hari Rabu (14 Agustus 2024) dan akan dikonsep dengan acara Party/Dj. Hal tersebut membuat kontroversi di kalangan mahasiswa UIBU lantaran transparansi pendanaan yang tidak jelas dan acara yudisium yang dikonsep dengan acara party/DJ. Salah satu mahasiswa berinisial W angkatan 2020 saat diwawancarai mengatakan bahwa Yudisium yang akan digelar sangat tidak pro terhadap mahasiswa dan juga menyengsarakan mahasiswa dikarenakan kenaikan pembayaran yang tidak wajar dan hanya memprioritaskan acara Party/Dj. “Yudisium yang akan digelar ini konsepnya tidak jelas dan tidak pro mahasiswa, tahun lalu tarifnya masih 500.000 tapi sekarang naik 250.000 menjadi 750.000, teman-teman kami tentu banyak yang merasakan keresehan ini. Pihak...