Langsung ke konten utama

Mereka yang Bertahan Hidup di Tengah Arus Zaman (Part II)

Ilustrasi: Ultimagz

Malang, LAPMI - Malam Minggu sungguh ramai kota ini membawakan aku pada perempuan rambut hitam ikal di pesisir pantai selatan, perempuan itu bernama Hangain. Hangain adalah seorang perempuan yang hidup dengan kelaparan setelah proklamasi dibacakan, aku adalah sebagian manusia yang melihat nasib dengan kesedihan.

Ketika malam telah berjalan setengah jinjit di bawah bulan setengah bulat di atas pasir putih yang basah  perempuan berkebaya bergurindam dengan kaki kecilnya ia mengcakar-cakar bau garam dan angin kasar namun kecil meniup rambut ikal yang lenggang hendak menggaung, kemudian Hangin  bertutur 

"Setelah proklamasi itu di bacakan sudah tak terhitung lelaki yang meniduri ku demi sekantong rezeki ku yang di titipkan Tuhan di kantong baju ataukah katong celana mereka, lelaki  yang hadirnya mereka dengan kondisi apa pun aku terimah sekiranya rezeki itu tetap milik ku dan rezeki milik perempuan lain tetap miliklah mereka"

Sambil memperbaiki rambutnya ia kemudian berucap kembali "Kalaulah seperti tak ada hak mereka menangkapku tiga kali untuk sekiranya bertanggung jawab atas ketidakkepercayaanku terhadap kebijakan mereka"

"Mereka pula yang dengan napas tergesah-gesah mebuat ribut di atas ranjang ku "

"Dan hari ini datang surat perintah atas kehadiran kau-kau yang berisikan demi ketertiban umum kau mau menangkapku?"

"Sepertinya mereka sudah lupa dengan tiga kali aku di tangkap berakhir dengan urusan ranjang, setelah kelamin mereka jatuh layu mereka lupa mereka ingin menangkapku"

Dua orang pembawa surat itu kemudian dengan tangan di pinggang hendak memberikan aba-aba untuk mengambil senjatanya sekiranya kalau si perempuan ini memberontak matilah dia dalam pertemuan kali ini

"Sekiranya kemarin aku telah di lahirkan tak beradab tanpa seorang ayah pula mengapa pula besok aku terpaksa untuk tetap tegar dan menerima setiap saat harus berzina mungkinkah ini yang mereka seruhkan jalan Tuhan harus di tempuh manusialah yang merubah nasibnya?, Nyatanya bukan itu hanya bualan mereka, mereka-mereka tak ada seorang pemuka agama sepanjang 20 tahun aku hidup sebagai pekerja serabutan di malam pelacuran datang dan berkata atas nama Tuhan pula kau ini harus berhenti dengan keadaan mengais rezeki seperti saat ini, agar lebih lama menyembah tuhan  nyatanya aku menemukan Tuhan ketika tubuhku sudah tak semolek dahulu, ketika rambut uban ku sudah telihat, mata ku mulai buram", tuturnya 

"Jikalau malam ini pula kita habiskan surat itu dengan kesepakatan seperti pembawa surat-surat sebelumnya kalian terlalu murah menjaga amanah kalian gegabah dalam menjaga perintah lantas apa salah saya tak mau ikut kebijakan kalian?"

"Aku hanya ingin menuliskan doa yang tenggelam dalam dadamu dan menolongnya agar tidak patah di dalam jalanya menuju Tuhanya", itu saja 

"Lantas bagaimana besok jika bahagiamu jatuh pada pelukku, dan tidur pulas pada dekapku hah? Sesat setelah sperma mu membasahi ranjangku dan cemberutku juga menjadi air mata"

"Tidak ada yang bisa kau curi dari ku ketika sombarmu nampak di depan pintu itu"

Nyatanya moral tetap moral, moral tidak mampu berunding dengan lapar. Lantas agama dari mulut siapa agama itu benar? jangan kau ucapakan dari mulut seorang politisi ahahahahahha

"Oh, oh tidak aku sedang mabuk Tuhan maaf, maafkalah aku yang terus menerus berucap sembarangan"

"Zaman berjalan dengan laju, di tengah-tengah air mata yang di datang sebagaiman manusia lainya alasan tuhan juga aku meneteskan air mata"

"Biarlah moral yang menghukumku entalah moral agama ataukah moral negara nyatanya aku tetap tak kenyang ketika kelaparan itu datang nyatanya aku tetap tak kenyang ketika lapar itu datang, nyatanya lapar tak mungkin berunding dengan keadaan kecuali malam aku ditiduri oleh para lelaki itu "

"Silahkan datang dan tangkap aku, sekiranya keluar dari situ tubuhku tetap tubuhku terserah aku mau hasilkan apa dari tubuh ku"

"Jika mereka di pagi hari dengan pakaian rapi bersiap untuk bekerja, sementara aku di malam hari tanpa baju berarti siap juga untuk bekerja"

"Jika desahan ku membuat Tuhan marah dan murka, maka Tuhan aku meminta maaf atas murkamu kepadaku, sebab ketika panggilanmu aku dengar dan masih ada lelaki di atas tubuh ku, aku menyisakan meminta ampun di tengah-tengah desahan dari mulutku"

Stop kau bercerita panjang ikut kami ke kantor, kau ini sedang mabuk asuuuuuu.


Penulis: Rahmat Watimena/ Pengurus Koordinator Komisariat UNISMA
Editor: Reny Tiarantika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...

Demi Party di Yudisium, Kampus UIBU Malang Poroti Mahasiswa

  Kampus UIBU Malang dan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Yudisium Malang, LAPMI - Universitas Insan Budi Utomo Malang yang biasa disebut kampus UIBU akan menggelar acara yudisium dengan tarif 750.000. Sesuai informasi yang beredar yudisium tersebut akan digelar pada hari Rabu (14 Agustus 2024) dan akan dikonsep dengan acara Party/Dj. Hal tersebut membuat kontroversi di kalangan mahasiswa UIBU lantaran transparansi pendanaan yang tidak jelas dan acara yudisium yang dikonsep dengan acara party/DJ. Salah satu mahasiswa berinisial W angkatan 2020 saat diwawancarai mengatakan bahwa Yudisium yang akan digelar sangat tidak pro terhadap mahasiswa dan juga menyengsarakan mahasiswa dikarenakan kenaikan pembayaran yang tidak wajar dan hanya memprioritaskan acara Party/Dj. “Yudisium yang akan digelar ini konsepnya tidak jelas dan tidak pro mahasiswa, tahun lalu tarifnya masih 500.000 tapi sekarang naik 250.000 menjadi 750.000, teman-teman kami tentu banyak yang merasakan keresehan ini. Pihak...