Langsung ke konten utama

Pembangunan dan Tambang di Wadas adalah Genosida

Rahmat Watimena/ Kader HMI At-Tsawarah/ Mahasiswa UNISMA

Malang, LAPMI - Tatkala partai Nazi sebagai fasisme Jerman berkuasa, kekuasaan itu di pegang Hitler pada tahun 1933 yang kemudian melakukan Holocaust atau shoha adalah pembunuhan massal orang-orang Yahudi di barat, mengahasilkan total korban 11 juta korban  jiwa dalam kurun waktu 1942 -1945 dengan rincian korban, 6 juta orang Yahudi dan bukan orang Yahudi 5 juta orang, orang Yahudi di bunuh dengan berbagai cara (penembakan, pemerkosaan dan mebangunkan camp yang masukan gas beracun) untuk orang Yahudi, ada juga dengan pemerkosaan dan tindakan tidak berperikemanusian lainya, dalih fuhrer sapaan akrab hitler, bangsa Arya lah yang paling suci dan paling unggul salah satu dalihnya juga kekalahan Jerman  pada perang pertama karena adanya penghianatan, Hitler bekas prajurit perang dunia I , Pertama kali di lakukan pada tahun 1942 pembantai di tahun berakhir di tahun 1945 dengan kalahnya Nazi.

Dari konteks di atas adalah bisa di lihat bahwa kematian yang di susun secara sistematis untuk suatu ras yang kita kenal sebagai genosida, apa hubungannya dengan pembangunan? Hubungannya begini, ahahahha hehehe huhuhuhu huiiiiiii

Sebelum sinonim masuk  kita mulai membaca sinonim saya mau bertanya, sudah ambil jemuran? sudah makan?

"Sudah menanyakan kabar orang tua? "

"Jangan tanya kabar pak... Melulu "

(Anda yang menegaskan yaa)

"Woiiii, mulai mulai woiii 

"Baik baik baik woi "

Sebentar mau tanya lagi 

"Berapa persen jumlah populasi manusia suku Indian dan Eskimo di Amerika skarang ? "

"PEMBANGUNAN ADALAH GENOSIDA "

"PEMBANGUNAN ADALAH GENOSIDA "

"PEMBANGUNAN ADALAH GENOSIDA "

Okeh baik baik oke.

Berdasarkan pada apa yang saya catatat dalam peristiwa di Jerman (yang lebih detail bisa baca literatur biar jelas )

Tetang Nazi, tentunya membawa kita pada pergolakan Wadas hari ini bukan hanya Wadas namun proyek strategi lainya, dan pola pembangunan yang ada di Indonesia hari ini yang terbentang dari marauke sampai ke Aceh, mengatasnamakan pembangunan untuk kesejahteraan itu genosida, kali ini kita ambil sampel Wadas tanpa melupakan yang terjadi di Papua, NTT , Maluku dan pelosok negeri ini 

Kenapa harus tolak tambang?

Karena tarlalu cinta dengan tanah Wadas  mayoritas pekerjaan nya petani itu tanah mereka akan di tambang dengan sistem Quarry, untuk mendapatkan batuan andesit dengan kata pembangunan strategis bla, bla, BLA kalau sudah di bangun mereka gantungkan hidup di mana?, Proyek itu untuk kesejahteraan dan kemaslahatan rakyat bukan di seputar bendungan ?

Ataukah mau musnakan mereka ?

"Okeh baik, baik okeh "

"Di mana wakil presiden ? "

Kita lanjut

Dalam dunia pertambangan ada beberapa metode pertambang di antara Quarry adalah system tambang terbuka yang diterapkan untuk menambang endapan-endapan bahan galian industri atau mineral industri, antara lain penambangan batu gamping, marmer, granit, andesit dan sebagainya.

Ini biasanya di lakukan di pegunungan dan daerah yang berdekatan dengan lereng biasanya di Bom untuk mendapatkan tujuan si tuan-tuan tadi 

"Kalau ada emas allhamdulliah juga berarti yaaa, genosida sudah berlaku dengan masyarakat yang berprofesi sebagai petani lah yang mendapatkan dampak paling besar, namun dampak dari pengeboman ini juga memiliki abu yang akan berterbangan sana sini, tanpa sudah tersistematis berarti pembunuhan ini di lakukan  "

Batuan andesit terbentuk biasanya di daerah yang di keliling oleh gunung aktif, Batuan andesit terbentuk dari magma dengan temperatur antara 900 sampai 1.100 derajat celcius. Mineral-mineral yang ada dalam batuan andesit bersifat mikroskopis sehingga tak bisa dilihat tanpa batuan mikroskop. 

Batuan andesit sering digunakan untuk pembangunan infrastruktur, seperti jembatan, jalan raya, irigasi, landasan terbang, pelabuhan, gedung-gedung, dan lain sebagainya. Batuan andesit yang digunakan untuk keperluan infrastruktur ini sudah berbentuk agregat dari pertambangan. Batuan andesit banyak digunakan karena memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai cuaca dan tahan lama. Tidak semua batuan andesit lolos uji sebagai bahan dasar konstruksi/pembangunan. Batuan andesit yang digunakan untuk fungsi tersebut harus melewati serangkaaian tes berupa uji kuat tarik, kuat tekan, kuat geser desnsitas berat jenis, dan lain-lain. Hasil tes ini akan memperlihatkan elastisitas batuan dan sifat fisika lainnya, 

Kalau memang begitu banyak yang harus di korbankan maka bagaimana bisa tetap pengukuran di lakukan dan masyarakat yang menolak di kepung nyatanya masyarakat bukan menolak pada bulan ataukah Minggu berjalan namun sudah dari tahun 2017, lantas apa solusi yang kemudian di berikan nanti ? Nyatanya banyak sekali yang terjadi setelah ganti rugi yang tidak sesuai atas lahan masyarakat pemerintah metelantarkan rakyatnya, kemudian setiap tahunya menggeluarkan data kemiskinan ?

Jika mata pencaharian mereka sudah di jadikan tambang apakah pemerintah memberikan pekerjaan yang layak, uapah yang sepdana? Nyatanya tidak pernah ada yang terjadi di Indonesia seperti 

Kalau memang banyak yang perlu di korbankan atas aktivitas oetabngan di Wadas lantas mengapa di katakan sebagai proyek strategi?, Strategi untuk membunuh rakyat secara sistematis, kemudian pandemi memberikan efek yang sangat cukup di katakan sebagai tragis terhadap pendidikan, ekonomi dan kesehatan negeri ini

Namun apakah proyek pembangunan infrastruktur di stop? nyatanya tidak 

Pembangunan infrastruktur seharunya ada pada jumlah populasi yang meningkat nyatanya pemerintah terus mengupdate data korban meninggal dunia covid, namun lelang proyek sana sini terus terjadi . Bahkan skala kabupaten kota, naik ke provinsi menari manis dengan tender proyek yang bergulir, apa kabar proyek ini mama kota baru ? semoga tak seperti Hambalang senasib dan Mega proyek mandek akibat korupsi. Lantas kebijakan itulah yang saya katakan bahwa sebagai sinonim dalam pertiwa Nazi di Jerman, namun lebih halus atas nama pembangunan untuk sampai ke kesejahteraan itu palsu di Indonesia.

Editor: Reny Tiarantika

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...

Demi Party di Yudisium, Kampus UIBU Malang Poroti Mahasiswa

  Kampus UIBU Malang dan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Yudisium Malang, LAPMI - Universitas Insan Budi Utomo Malang yang biasa disebut kampus UIBU akan menggelar acara yudisium dengan tarif 750.000. Sesuai informasi yang beredar yudisium tersebut akan digelar pada hari Rabu (14 Agustus 2024) dan akan dikonsep dengan acara Party/Dj. Hal tersebut membuat kontroversi di kalangan mahasiswa UIBU lantaran transparansi pendanaan yang tidak jelas dan acara yudisium yang dikonsep dengan acara party/DJ. Salah satu mahasiswa berinisial W angkatan 2020 saat diwawancarai mengatakan bahwa Yudisium yang akan digelar sangat tidak pro terhadap mahasiswa dan juga menyengsarakan mahasiswa dikarenakan kenaikan pembayaran yang tidak wajar dan hanya memprioritaskan acara Party/Dj. “Yudisium yang akan digelar ini konsepnya tidak jelas dan tidak pro mahasiswa, tahun lalu tarifnya masih 500.000 tapi sekarang naik 250.000 menjadi 750.000, teman-teman kami tentu banyak yang merasakan keresehan ini. Pihak...