Langsung ke konten utama

Menggugat Realitas HMI (Suatu Kritik dan Upaya Meningkatkan Peran Strategis Kader HMI)

 

Dokumentasi : Agus Salim

Malang,LAPMIHimpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang lahir 5 february 1947 tepatnya di Yogyakarta, tentunya sudah menjadi benak dalam ingatan kolektif bahwa, disetiap hari lahirnya terdapat berbagai perayaan yang dilakukan oleh kader-kader hmi yang bersifat simbolis, jelas dalam lahirnya hmi memberikan format terhadap persoalan kebangsaan dan keummatan, seiring hadir dan berkembangnya hmi  memiliki relavansi dalam perjuangan proses dinamika pergolakan bangsa, kita semua tau hmi sebagai organisasi tertua turut andil dalam revolusi mentalitas bangsa hmi turut hadir dalam memanfaatkan kapasitas nalar rasionalnya dan selalu berijtihad untuk Membangun dan merawat terhadap ekspektasi keberlangsungan hidup bernegara.

Almarhum pemrakarsa berdirinya hmi Prof. Drs. H. Lafran Pane, ketika memberi sambutan pada peringatan Dies Natalis ke-22 hmi cabang Yogyakarta di gedung seni sono Yogyakarta 5 february 1969 mengatakan: bahwa sebenarnya HMI tidak perlu ada. Karena apa yang dilaksanakan hmi dapat dikerjakan Corp Mahasiswa (CM) tahun 1947, oleh PPMI tahun 1960, oleh KAMMI 1965. Dapat juga dilaksanakan organisasi lain, yang berdiri kemudian seperti KNPI 23 juli 1973. Namun kenyataan seperti yang kita saksikan saat ini, bahwa HMI ada.

Lebih lanjut Lafran Pane mengatakan: Walaupun CM, PPMI, KAMMI dapat melakukan apa yang dilaksanakan HMI, namun ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan organisasi tersebut , dan hanya dapat dilaksanakan HMI, yaitu pengkaderan seperti yang dilakukan HMI, yang merupakan ciri khas HMI, yang tidak dimiliki organisasi lain, dimana kader yang dihasilkan HMI adalah annggota yang berwawasan keislaman, keindonesiaan, kemahasiswaan dengan 5 kualitas insan cita dan bersifat independen.

Pernah saya menemukan literature yang cukup venomenal yang disampaikan oleh Nurcholis Majid atau yang biasa dipanggil Cak Nur, dalam buku 44 indikator kemunduran hmi, ia mengungkapkan “Bubarkan Saja HMI” pernyataan yang cukup menggelora di pikiran kita, tentu pernyataan ini disampaikan atas dasar suatu corak pemiikiran dan cara pandang yang tentunya di dorong oleh hasrat ke kritisannya dalam persoalan-persoalan yang paling krusial di tubuh dan jiwa HMI

Pernyataan yang disampaikan oleh Cak Nur dalam momentum milad hmi ke 50 tahun 1997 beliau mengungkapkan bahwa “ulang tahun hmi bukanlah ulang tahun emas melainkan besi karatan. Hal ini kemudian menjadi kegelisahan bagi cak nur ketika hmi serat terhadap kepentingan politis, yang cendrung bahkan terlalu deket dengan dunia birokrasi pemerintahan elit.

Ketika kita mengamati secara objektif realitas kondisi hmi saat ini adalah mengalami disorentasi dan terjadi dekadensi yang cukup memperihatinkan. Hal ini terdeteksi dan dilema intelektualitas yang kemudian melenceng dari fatwah dan khittah perjuangan hmi. Lafran pane sebagai pemrakarsa berdirinya hmi yang sangat tidak menginginkan adanya transaksional politik didalam tubuh hmi dengan deketnya pada kekusaan, karena salah satu indicator berdirinya hmi adalah yang mana organisasi-organisasi lain pada saat itu deket dengan kekuasaan sehingga hmi hadir sebagai organisasi yang mempunyai nilai independensi yang akan menjadi corak keberlangsungan kehidupan organisasi

Himpunan mahasiswa islam yang sejatinya benda mati yang kemudian hidup dengan dinamika spritualnya, keadaan memaksanya untuk hidup menjadi kawah candradimuka bagi bangsa. 75 tahun umur yang cukup tua yang seharusnya lebih berdampak dari masa belitanya. Kesadaran kolektif, kesadaran individualistic harus terintegrasi dalam laku. Ini hmi bukan tempat mencari sensasi tetapi membumikan esensi

Hari ini banyak kader hmi yang tidak menjaga nama baik organisasi artinya inkonstitusional dalam aktualisasi. Realitas kondisi hmi ternyata dipandang sebagai organisasi yang mampu menciptakan dan melahirkan kader-kader yang opurtunis yang hanya memikirkan ego individualistic dan kelompok dengan mengedepankan persoalan kultur, gerbong dan bahkan persoalan primordialisme.

Hal ini pada seyogyanya merupakan khittah perjuangan setiap kader, dimana diyakini realitas keberadaan hmi sebagai laboratorium pengembangan intelektual dan membuka ruang sosial terhadap pengembangan cita-cita negara sebagaimana platform perjuangannya yakni melihat persoalan kebangsaan dan keummatan

05 februari 2022 hmi bertambah usia yang ke 75 tahun semoga arah baru hmi kedepan memiliki sinkronisasi perjuangan yang relavan dengan dinamika pergolakan hari ini, konstruk  independensi organisatoris dan independensi etis harus terintegrasi didalam pergerakan kader hmi agar tetap menjaga marwah dan bersikap etis sebagai generasi yang berorganisatoris.

 

YAKIN USHA SAMPAI ARAH BARU HMI MENUJU INDONESIA EMAS 2045 MELALUI HMI BERDAYA INDOSIA JAYA.


Penulis : Agus Salim

Editor : Ai Novia Hasna Afifah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...

Demi Party di Yudisium, Kampus UIBU Malang Poroti Mahasiswa

  Kampus UIBU Malang dan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Yudisium Malang, LAPMI - Universitas Insan Budi Utomo Malang yang biasa disebut kampus UIBU akan menggelar acara yudisium dengan tarif 750.000. Sesuai informasi yang beredar yudisium tersebut akan digelar pada hari Rabu (14 Agustus 2024) dan akan dikonsep dengan acara Party/Dj. Hal tersebut membuat kontroversi di kalangan mahasiswa UIBU lantaran transparansi pendanaan yang tidak jelas dan acara yudisium yang dikonsep dengan acara party/DJ. Salah satu mahasiswa berinisial W angkatan 2020 saat diwawancarai mengatakan bahwa Yudisium yang akan digelar sangat tidak pro terhadap mahasiswa dan juga menyengsarakan mahasiswa dikarenakan kenaikan pembayaran yang tidak wajar dan hanya memprioritaskan acara Party/Dj. “Yudisium yang akan digelar ini konsepnya tidak jelas dan tidak pro mahasiswa, tahun lalu tarifnya masih 500.000 tapi sekarang naik 250.000 menjadi 750.000, teman-teman kami tentu banyak yang merasakan keresehan ini. Pihak...