Langsung ke konten utama

Hanya Aku yang Tahu

Gambar: Pixabay

Aku hanya mengerti cinta melalui buku-buku yang aku baca, aku tidak tahu apakah aku akan mengalaminya suatu saat nanti dan berakhir bahagia atau malah sebaliknya.

Aku adalah mahasiswa baru di salah satu Universitas yang berada di Malang. Fikram, biasa teman-teman satu angkatan memanggilku. Sebagai mahasiswa baru, aku kerap sekali berkeliling kampus untuk melihat-lihat sudut kampus tempat aku kuliah.

Di sela-sela aku berkeliling, aku tidak sengaja melihat seorang gadis yang duduk termenung sendiri di gazebo yang biasa di jadikan tempat nongkrong para mahasiswa. Aku sedikit tertegun saat melihatnya. Ku perhatikan mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan aku peroleh kesimpulan bahwa dia adalah gadis yang misterius.

Setelah pertama kali aku melihatnya, rasa ingin tahuku semakin besar, aku mencoba mencari berbagai informasi mengenai dia, hingga aku tahu bahwa dia yang aku kagumi bernama Citra, gadis yang terkenal cantik dan galak itu merupakan salah satu mahasiswi dari berbagai organisasi. 

Citra merupakan gadis terkenal di kampus dengan kepiawaiannya dalam memainkan biola. Ada satu hal yang membuat aku kaget, ternyata Citra adalah teman satu kelas ku, karena masih mahasiswa baru, aku terkadang lupa dengan teman satu kelas ku karena aku jarang memperhatikan mereka. 

Hal tersebutlah yang membuat kami lambat laun menjadi akrab dan kami pun bersahabat, meskipun begitu aku tetap tidak mampu menyingkirkan rasa kagum dan suka ku padanya meski kami telah bersahabat.

Karena kedekatan kami, banyak yang mengira bahwa kami sedang berpacaran, namun hal yang selama ini di anggap oleh teman-teman, tidaklah mungkin terjadi. Aku dan Citra merupakan aktivis di kampus. 

Siang itu, aku tak sengaja melihat dia bermain biola, aku sengaja berdiri di tempat yang tidak teduh, agar aku bisa dengan leluasa memperhatikan dia. Rasa kagum ku semakin dalam, seolah lidahku tidak bisa berkata-kata dan aku pun menatapnya tanpa mampu memalingkan pandanganku.

Kepiawaian nya memainkan biola seolah membuatku terbius dalam iramanya, rasa kagum ku padanya semakin dalam, hingga aku bingung apa yang harus aku lakukan.

Pada akhirnya aku menutup mata ingin mengambil beberapa ketenangan. Namun pada saat mataku terpejam, aku kaget dengan suara yang memanggil namaku,

“Fik, Fikram .. kamu ngapain di situ?”

“eh, Citra, emm”

“Sini deh. Kamu berdiri disitu apa gak kerasa panas Fik. Sini, temenin aku latihan Fik, biar aku ada temennya”

“hehe, aku lagi nunggu tukang jajan lewat”

Citra tertawa sambil berkata “kamu ada-ada aja fik, gak ada tukang jajan masuk kampus fik. Sini deh .. aku bisa atasi rasa laparmu”.

Hanya kata-kata itu saja, sudah membuat aku salah tingkah. Aku memang orang yang bisa dibilang cuek oleh teman-temanku, aku cenderung tidak peduli oleh sesuatu yang bagi ku tidak terlalu penting. 

Jadi, meski aku sudah ikut organisasi, aku pun tidak bisa menghilangkan sifat ku yang sudah ada sejak dulu. Aku merasakan hal yang aneh ketika aku berada di dekat Citra, aku tidak bisa pura-pura tidak memperhatikannya, aku tidak bisa berlagak cuek, tapi sebaliknya aku selalu merasa salah tingkah dan aku pun jadi pendiam. 

Pada suatu ketika, aku baru tahu bahwa salah satu teman dekatku juga menyukai wanita yang sama yang aku sukai, yaitu Citra. Ada sedikit perbedaan antara aku dan temanku, aku cenderung tidak memiliki keberanian untuk menyatakan perasaanku, sedangkan dia selalu mencari kesempatan agar bisa mendekati Citra. 

Hingga pada suatu ketika, kami bertiga, belajar bersama. Aku melihatnya selalu menanyakan hal-hal yang menurutku tidak perlu di tanyakan kepada Citra, aku tahu bahwa dia hanya ingin mencari perhatian Citra. Karena bosan melihatnya, aku meninggalkan mereka begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Aku tidak peduli apa yang mereka pikirkan tentang aku. Hingga pada malam hari, aku tidak bisa berhenti memikirkan Citra, aku pun tidak bisa mengatakan pada Citra, bagaimana perasaanku terhadapnya, karena dia adalah sahabatku sendiri.

Akhirnya aku hanya bisa menyampaikan melalui syair yang ku buat sendiri tentang perasaanku terhadapnya. Rasa suka ku padanya kadang membuat aku ingin memilikinya, namun aku sadar bahwa perasaan seperti itu, bukanlah perasaan yang baik, sehingga harus aku hilangkan. 

Saat ini, aku putuskan untuk menyimpan perasaanku padanya rapat-rapat. Biarlah hanya aku yang tahu betapa besar rasaku terhadapnya. Karena memang aku mencintainya, dan aku tidak peduli bagaimana perasaannya terhadap ku. Karena yang terpenting dia selalu ada di dekatku walau hanya sebatas sahabat. Itu sudah cukup buatku.

Penulis: Dhon_Max

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Membongkar Mitos: Perpeloncoan dan Pembulian dalam Diklat Jurusan Bukanlah "Pembentukan Mental"

Nazia Kamala Kasim  (Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik 2025 Universitas Tribhuwana Tungga Dewi Malang) Malang, LAPMI - Musim penerimaan mahasiswa baru seharusnya menjadi masa-masa yang paling dinantikan: dipenuhi janji-janji persahabatan, eksplorasi ilmu, dan langkah awal menuju kemandirian. Namun, bagi ribuan mahasiswa baru di berbagai institusi, euforia itu seringkali harus dibayar mahal. Di balik foto-foto ceria dan slogan "solidaritas," tersimpan cerita sunyi tentang bentakan, intimidasi, dan tugas-tugas merendahkan yang terjadi dalam kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus. Sejatinya, kegiatan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) atau orientasi kampus seharusnya menjadi sarana yang menyenangkan untuk membantu mahasiswa baru beradaptasi dengan lingkungan akademik dan sosial. Namun, harapan ini seringkali pupus karena maraknya perpeloncoan (hazing) dan pembulian (bullying) di banyak institusi, yang justru meninggalkan dampak negatif secara mental ...

PERGURUAN TINGGI SEBAGAI PENYUMBANG DOSA DALAM DEMOKRASI INDONESIA

  Sahidatul Atiqah (Jihan) Departemen PSDP HMI  Komisariat Unitri Pada hakikatnya perguruan tinggi memiliki posisi strategis, yaitu menjadi instrumen mencerdaskan kehidupan bangsa.  Dari perguruan tinggi lahir generasi-generasi penerus yang berkapasitas baik untuk membangun dan meneruskan estafet kepemimpinan bagi sebuah bangsa. Selain itu perguruan tinggi memiliki tugas dan peran yang termuat dalam Tri Dharma salah satunya adalah pengabdian, perguruan tinggi memiliki ruang lingkup pengabdian yang luas, termasuk dalam ranah politik dan demokrasi yang membutuhkan kontribusi dari pihak-pihak terkait di perguruan tinggi. Dengan kata Lain kampus tidak hanya menjadi tempat menuntut ilmu tetapi juga menjadi garda terdepan dalam membentuk pemikiran kritis dan berpartisipasi aktif dalam mengawal demokrasi. Kampus tidak boleh mengabaikan keterlibatan dalam isu politik. Oleh karena itu, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta dalam mengawasi, mengawal, dan m...

Demi Party di Yudisium, Kampus UIBU Malang Poroti Mahasiswa

  Kampus UIBU Malang dan Surat Edaran tentang Pelaksanaan Yudisium Malang, LAPMI - Universitas Insan Budi Utomo Malang yang biasa disebut kampus UIBU akan menggelar acara yudisium dengan tarif 750.000. Sesuai informasi yang beredar yudisium tersebut akan digelar pada hari Rabu (14 Agustus 2024) dan akan dikonsep dengan acara Party/Dj. Hal tersebut membuat kontroversi di kalangan mahasiswa UIBU lantaran transparansi pendanaan yang tidak jelas dan acara yudisium yang dikonsep dengan acara party/DJ. Salah satu mahasiswa berinisial W angkatan 2020 saat diwawancarai mengatakan bahwa Yudisium yang akan digelar sangat tidak pro terhadap mahasiswa dan juga menyengsarakan mahasiswa dikarenakan kenaikan pembayaran yang tidak wajar dan hanya memprioritaskan acara Party/Dj. “Yudisium yang akan digelar ini konsepnya tidak jelas dan tidak pro mahasiswa, tahun lalu tarifnya masih 500.000 tapi sekarang naik 250.000 menjadi 750.000, teman-teman kami tentu banyak yang merasakan keresehan ini. Pihak...